Dari awalnya saja kita akan sedikit tersenyum ketika mendengar istilah berkah cost. Lucu dan sedikit menarik. Ketika yang selama ini kita kenal istilah berkah hanya ada pada istilah-istilah agama. Misalnya harta yang kita keluarkan akan menjadi barokah. Ataupun pada berbagai istilah agama lain. Tapi disini tidak, istilah berkah cost ada untuk mengimbangi cost yang harus dikeluarkan untuk proses produksi.
Dalam kita menghitung laba, yang kita kenal selama ini adalah adalah biaya yang kita dapat (TR/ Total Revenue) dikurangi dengan biaya yang kita keluarkan (TC/ Total Cost). Disinilah letak kekurangannya ketika ilmu konvensioanal yang selama ini kita agung-agungkan.
Dimana alokasi dana hanya untuk dua arah, yaitu total yang masuk dikurangi total yang keluar, tanpa memandang factor lain yang kadang itu malah menjadi poin penting. Ternyata masih butuh pembenahan dan itu menjadi pokok ataupun dasar dalam kita melakukan proses produksi.
Justru kita sebagai seorang muslim, memandang BC (Berkah Cost) ini menjadi persyaratan ataupun cost yang lebih signifikan atau boleh dibilang yang wajib dikeluarkan
Orang kadang-kadang malah melupakan sesuatu yang menjadi “core” dari sebuah proses produksi ataupun dalam berbagai aktivitas lainnya. Kita tidak boleh lagi berpikir pragmatis dalam melakukan sesuatu. Boleh kita mengatakan ketika BC itu muncul, malah justru mengurangi total laba yang kita dapatkan. Jadi BC mempunyai alokasi biaya sendiri yang nantinya justra akan mengurangi tingkat laba. Tapi itu dalam ilmu matematis. Misalnya ketika kita mempunyai laba sebesar 100, kemudian kita mengambilnya untuk sebuah konsumsi sebesar 30, maka semua orang matematis akan berpikir bahwa uang kita hanya tinggal 70, dan ketika kita akan mengambilnya lagi sebesar 40, maka uang kita hanya tinggal 30. Sangat matematis bukan.
Tapi tidak dalam ilmu agama. Biaya yang kita keluarkan selama itu tetap di jalan Tuhan, maka bukan hanya cash yang akan kita dapat, tapi akan ada faktor lain yang berbicara. Jadi ketika melakukan proses produksi dan mendapatkan nominal dari penjualan yang kita lakukan sebesar 140. Sedangkan total cost (TC) yang kita keluarkan adalah sebesar 90. Maka secara matematis, laba yang akan kita dapatkan adalah sebesar 50. Tanpa adanya BC, laba kita kana tetap utuh sebesar 50. Akan tetapi jika kita melakukan alokasi untuk BC sebesar 20, maka laba yang kita dapatkan akan berkurang menjadi 30. Tentu sangat disayangkan ketika kita berpikir pada jalur nominal saja. Dengan kita mengalokasikan sejumlah dana untuk BC (Berkah Cost).
Tapi tidak dalam ruang lingkup agama. Memang secara riil jumlah nominal laba kita akan berkurang secara signifikan sesuai dengan pengalokasian BC yang kita rencanakan. Akan tetapi jika BC itu kita lakukan akan justru menambah produktifitas hasil kerja kita dan tentunya margin yang kita dapat akan barokan di dunia dan akherat. Karena dalam urusan sedekah kita tidak mengenal adanya perhitungan matematis yang mengatakan bahwa 3 dikurangi 1 hasilnya pasti 2. Justru bisa jadi 3 dikurangi 1 hasilnya malah 5 atau bahkan 7. Siapa tahu???
Itulah hukum alam. . .
Kertosariro, 12 Nov 2009
05:00 AM