Oleh : Fuad Fathoni *)
fufa_fe@yahoo.co.id
Presiden incumbent, Susilo Bambang Yudhoyono mengharapkan dalam pilpres 8 Juli mendatang akan berjalan dengan lancar. Tidak ada lagi tindak anarkis yang dilakukan dalam kampanye para partai pendukung pasangan capres-cawapres. "Kami berharap kompetisi ini dapat berjalan dengan tertib, ksatria, dan bermartabat sesuai dengan undang-undang dan pengaturan KPU. Kami harus melaksanakan debat, kegiatan kampanye, dan lainnya berharap semua dapat dilaksanakan secara berbudaya dan beretika," papar SBY, saat prosesi pendaftaran capres dan cawapres, di kantor KPU, Jakarta, Sabtu (16/5).
SBY juga menganjurkan agar dalam pilpres kali ini tentu lebih bijak. Dari segi sistem, pemilu adalah hal yang kompleks. Namun ia percaya, pengalaman dari pemilu legeslatif pada 9 April kemarin, dapat menjadi pelajaran dalam pilpres kali ini. “Merupakan pembelajaran politik dan demokrasi bagi kita.” Lanjutnya. Ia mengakui, kompetisi bisa berjalan dengan keras dalam politik. Namun, sejauh ini, kondisi rakyat tetap tentram, teduh, dan tenang.
Kita tentunya berharap, agar kompetisi dalam pilpres nanti merupakan kompetisi yang sehat yang menggunakan kaidah menang bersama. Hendaknya para pasangan calon mempunyai pemikiran menang bersama dalam pilpres nanti dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Berpikir menang-menang merupakan sikap hidup. Berpikir menang-menang merupakan dasar untuk dapat hidup berdampingan dengan orang lain. Berpikir menang-menang dimulai dengan kepercayaan bahwa kita adalah setara, tidak ada yang di bawah ataupun di atas orang lain. Hidup bukanlah kompetisi. Mungkin kita memang menjumpai bahwa dunia bisnis, sekolah, keluarga, olah raga adalah dunia yang penuh kompetisi, tetapi sebenarnya kita sendiri yang menciptakan dunia kompetisi. Hidup sebenarnya adalah relasi dengan orang lain. Berpikir menang-menang bukanlah berpikir tentang menang-kalah, kalah-menang ataupun kalah-kalah.
Pertama, Win-Lose (Menang-Kalah)Paradigma ini merupakan jika “saya menang, anda kalah”. Dalam gaya ini seseorang cenderung menggunakan kekuasaan dan jabatan untuk mendapatkan apa yang diharapkan dengan menghalalkan segala cara. Bahkan dengan mengorbankan orang lain. Dengan cara pandang yang seperti ini, ia berpikiran bahwa jika ia menang dan orang lain pasti kalah. Jika ada seseorang yang menang, dia akan berpikir bahwa dirinya pasti kalah. Sikap yang seperti ini tidak akan pernah berhenti. Ia menganggap kemenangan harus mengorbankan orang lain. Pihak yang kalahpun akan merasa kecewa, sakit hati dan merasa dibaikan.
Sikap menang-kalah ini lebih dikarenakan oleh sikap yang selalu mencoba memaksakan kehendak tanpa memperhatikan perasaan orang lain. Disamping itu, ia juga berusaha menjelek-jelekkan orang lain supaya diri sendiri kelihatan lebih baik.
Kedua, Lose-Win (Kalah-Menang). Paradigma ini menggambarkan seseorang yang tidak mempunyai harapan, visi ataupun tujuan hidup. Ia cenderung ingin menyenangkan atau memenuhi permintaan orang lain. Selalu bilang “ya” untuk urusan orang lain. Meskipun kadang ia harus mengesampingkan kepentingan pribadi. Ia mencari kekuatan dari popularitas. Karena gaya berpikir seperti ini lebih mementingkan popularitas, maka menang bukanlah target utama dalam misinya. Sehingga banyak perasaan terpendam dan tidak terungkapkan sehingga akan menyebabkan penyakit psikosomatik seperti sesak napas, gangguan sistem peredaran darah yang merupakan perwujudan dari kekecewaan dan kemarahan yang sangat mendalam.
Ketiga, Lose-Lose (Kalah-Kalah). Biasanya terjadi jika orang yang bertemu sama-sama mempunyai paradigm manang-kalah. Karena keduanya tidak bisa bernegosiasi secara sehat. Maka keduanya berpikir jika tidak ada yang menang, lebih baik keduanya sama-sama kalah. Sifat cemburu (jealous) selalu meliputi mereka. Mereka berpusat pada musuh, yang ada hanya perasaan dendam tanpa menyadari jika orang lain kalah dan dirinya kalah, sama saja dengan bunuh diri.
Keempat, Win-Win (Menang-Menang). Menang-menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama dalam berbagai kondisi. Bahkan dengan musuh sekalipun. Mereka (orang menang-menang) mengusahakan semua pihak merasa senang dan puas dengan pemecahan masalah atau keputusan yang diambil. Paradigma ini memandang kehidupan sebagai ajang untuk bekerjasama bukan persaingan.
Banyak cara yang sebenarnya bisa ditempuh oleh para capres-cawapres kita. Bukan hanya konsep menang-kalah saja. Alangkah indahnya jika capres-cawapres kita mempunyai paradigma menang-menang (win-win). Mungkin tak akan ada lagi black campain yang dilontarkan oleh ketiga pasangan. Saling olok-olok dan merendahkan yang sekarang masih digunakan oleh para calon.
Alangkah indahnya nanti jika kita melihat para tim pemenangan pemilu mengadakan kampanye bersama dalam satu tempat dan mengadakan orasi secara bergantian. Betapa bangganya kita sebagai rakyat melihat para calon pemimpinnya mempunyai sikap seperti pahlawan sejati dengan tidak menganggap musuh sebagai pesaing. Buat rakyat bingung, mana yang harus dipilih karena semuanya baik dan patut untuk dipilih. Bukan bingung karena semua tak pantas untuk dipilih.[]
*) Penulis adalah mahasiswa manajemen keuangan UIN Malang yang aktif di penulisan juga merangkap sebagai CEO (Chief Executive Officer) Community of Management
Rabu, 27 Mei 2009
Senin, 18 Mei 2009
"Tag Line" Para Pasangan Capres
Kemarin (16/5) adalah batas akhir pendaftaran capres dan cawapres. Sejumlah pasangan telah mendaftarkan diri ke KPU. SBY yang sebelumnya sangat sangat dinanti-nanti tentang siapa calon yang akan mendampinginya dalam pemilihan presiden 8 Juli mendatang akhirnya terjawab di gedung Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) Bandung. Boediono-lah jawaban dari sholat istikharah Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau memilih Boediono yang dinilainya memiliki track record yang bersih dan tidak berusaha cari muka. Mereka menamakan diri agar mudah diingat oleh masyarakat dengan sebutan “SBY berBoedi”. SBY bersama Boediono.
Di tempat lain, tepatnya di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat telah digelar hal yang serupa. Pengumuman mengenai siapa pendamping yang pantas untuk menjadi wapres dari Megawati. Akhirnya sampai jam 23.30, PDIP menunjuk Prabowo Subiantoro. Dalam pengumuman tersebut Prabowo menyatakan merasa terhormat bisa mendampingi Megawati dalam Pilpres 2009. Pasangan yang telah dimotori oleh PDIP dan Gerindra ini, dalam visi dan misi-nya akan memihak rakyat kecil dan akan mengusahakan sembako murah. Kedua pasangan ini mempunyai tag line agar mudah diingat oleh masyarakat “Mega-Pro”.
Pasangan yang ketiga dari partai Golkar dan Hanura, yakni Jusuf Kalla dan Wiranto yang telah mendeklarasikan jauh lebih dulu daripada kedua calon di atas menamakan dirinya sebagai “JK-Win”
Dari ketiga pasangan capres dan cawapres di atas, masing-masing mempunyai anekdot yang sedikit dapat menyegarkan pikiran kita selama sibuk dalam hiruk-pikuk koalisi yang dilakukan partai. Pertama, SBY berBoedi. Tentu kita tahu bahwa sekarang lagi marak-maraknya nama budi sebagai pemain komedi di salah satu stasiun tv swasta. Nama Budi Anduk begitu dikenal masyarakat apalagi di kalangan anak muda. Apa mungkin nanti tim sukses dari pasangan tersebut menggunakan Budi Anduk sebagai artis dalam iklannya.
Kedua, adalah pasangan dari PDIP dan Gerindra. “Mega-Pro”, tentu kita mengenal itu adalah merk motor dari salah satu perusahaan otomotif di Jepang. Apakah mungkin nanti juga tim sukses “Mega-Pro” akan menggunakan motor dengan merk itu untuk melakukan kampanye.
Untuk pasangan yang ketiga ini malah masih berandai-andai. “JK-Win”. Mungkin anggapan para tim sukses pasangan ini adalah JK atau Jusuf Kalla akan “win” atau menang. Tapi jika kita maknai dengan pengandaian bahwa Jika JeKa Win atau menang. Kalau kalah?
Semuanya itu tag line untuk menarik masyarakat agar mudah diingat dan tidak asing di telinga. Itu adalah salah satu strategi yang memang dipersiapkan untuk menghadapi Pilpres 8 Juli mendatang.
Fuad Fathoni
Ponpes Babul Ulum Tempursari Madiun
Di tempat lain, tepatnya di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat telah digelar hal yang serupa. Pengumuman mengenai siapa pendamping yang pantas untuk menjadi wapres dari Megawati. Akhirnya sampai jam 23.30, PDIP menunjuk Prabowo Subiantoro. Dalam pengumuman tersebut Prabowo menyatakan merasa terhormat bisa mendampingi Megawati dalam Pilpres 2009. Pasangan yang telah dimotori oleh PDIP dan Gerindra ini, dalam visi dan misi-nya akan memihak rakyat kecil dan akan mengusahakan sembako murah. Kedua pasangan ini mempunyai tag line agar mudah diingat oleh masyarakat “Mega-Pro”.
Pasangan yang ketiga dari partai Golkar dan Hanura, yakni Jusuf Kalla dan Wiranto yang telah mendeklarasikan jauh lebih dulu daripada kedua calon di atas menamakan dirinya sebagai “JK-Win”
Dari ketiga pasangan capres dan cawapres di atas, masing-masing mempunyai anekdot yang sedikit dapat menyegarkan pikiran kita selama sibuk dalam hiruk-pikuk koalisi yang dilakukan partai. Pertama, SBY berBoedi. Tentu kita tahu bahwa sekarang lagi marak-maraknya nama budi sebagai pemain komedi di salah satu stasiun tv swasta. Nama Budi Anduk begitu dikenal masyarakat apalagi di kalangan anak muda. Apa mungkin nanti tim sukses dari pasangan tersebut menggunakan Budi Anduk sebagai artis dalam iklannya.
Kedua, adalah pasangan dari PDIP dan Gerindra. “Mega-Pro”, tentu kita mengenal itu adalah merk motor dari salah satu perusahaan otomotif di Jepang. Apakah mungkin nanti juga tim sukses “Mega-Pro” akan menggunakan motor dengan merk itu untuk melakukan kampanye.
Untuk pasangan yang ketiga ini malah masih berandai-andai. “JK-Win”. Mungkin anggapan para tim sukses pasangan ini adalah JK atau Jusuf Kalla akan “win” atau menang. Tapi jika kita maknai dengan pengandaian bahwa Jika JeKa Win atau menang. Kalau kalah?
Semuanya itu tag line untuk menarik masyarakat agar mudah diingat dan tidak asing di telinga. Itu adalah salah satu strategi yang memang dipersiapkan untuk menghadapi Pilpres 8 Juli mendatang.
Fuad Fathoni
Ponpes Babul Ulum Tempursari Madiun
Sabtu, 09 Mei 2009
Resensi
Judul Buku : Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politikus
Penulis : Arvan Pradiansyah
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Cetakan : I, Maret 2009
Halaman : XXIV + 130 halaman
Peresensi : Fuad Fathoni *)
Pesta demokrasi telah usai. Kini hanya meninggalkan banyak kenangan yang mungkin tidak bisa kita lupakan begitu saja. Banyak fenomena yang terjadi yang kadang membuat kita tertawa atau bahkan prihatin. Sebut saja peristiwa yang terjadi di Kabupaten Garut. Ada caleg dari kabupaten tersebut yang marah besar sambil berteriak menghujat tim suksesnya. Hal itu terjadi karena diindikasikan telah menebar uang sebelum proses pemungutan suara pada salah satu TPS di wilayah kecamatan Winaraja, Garut
Namun, setelah dilakukan perhitungan suara, hasil sementara menunjukkan kalah telak. Sehingga sempat ditenangkan sekaligus diamankan oleh Polsek setempat. Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Garut, Dadang Sudrajat, menyatakan di ruang kerjanya, "Diharapkan jangan emosional menyikapi perolehan suara sementara, juga hendaknya bisa menerima ikhlas apa pun hasilnya, sekaligus dapat terus-menerus memanjatkan doa kepada Allah SWT," ungkapnya.
Di balik hiruk-pikuk dunia politik yang seperti itu, Arvan Pradiansyah penulis buku best seller “The 7 Laws of Happiness”, malah menulis buku yang menurut saya sangat berani. “Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politikus”.
Langganan:
Postingan (Atom)