Minggu, 19 April 2009

Hikmah Hari Ini

Kalau mau bahagia jangan jadi politikus!!!
Itulah pesan yang disampaikan oleh Bang Arvan penulis buku terlaris Life is Beautiful. Mungkin itu pendapat itu cukup beralasan karena kita lihat banyak fenomena yang terjadi dengan banyaknya Caleg yang stres gara-gara kalah dalam pemilu. Bang Arvan menulis buku barunya yang mengomentari masalah itu dalam buku "Kalau Mau Bahagia Jangan Jadi Politisi" yang baru terbit Maret lalu.



Ahh...

Andai semua politisi kita mempunyai pemikiran seperti Arvan Pradiasyah

Jumat, 17 April 2009

Jumat 13 Maret

Hari ini aku kebagian jadwal masuk jam 09.00. hari Jumat tepatnya. Aku ada kuliah study Hadist. Aneh ya mata kuliah ku? Ya inilah matakuliah ku setiap hari. Karena aku sekarang belajar di instansi yang berada di bawah naungan Depag. Sangat jauh beda dengan yang aku alami saat SMA dulu yang terkesan sangat sekuler. Bayangkan saja dalam satu minggu aku hanya dapat pelajaran Agama selama dua jam. Itupun sering kosong. Pelajaran agama hanya diajarkan sebagai syarat untuk memenuhi kurikulum saja. Sama sekali tidak ada landasan moral sebagai tujuannya. Yang kita fokuskan Cuma pada pelajaran eksak dan eksak saja. No more. Aku dulu sekolah berangkat jam 6 pagi. Naek sepeda ontel bersama menikmati sejuknya udara di pagi hari. Aku lewati sawah-sawah, rumah tetangga, menyebrang sungai dan akhirnya sampai pada perbatasan. Tapi itu masih perbatasan. Sekolahku masih 5 kilometer lagi kira-kira. Tapi aku tetap santai menikmati sepedah ontelku yang ku kayuh pelan-pelan.

Sampai sekolah aku tak pernah sekali pun terlambat. Aku hampir selalu jadi jajaran sepuluh besar anak-anak kelas yang datang paling awal. Oleh sebab itu teman-teman mempercayakan aku untuk memimpin yang lain. Mereka menyebutnya ketua kelas atau sampai sekarang mereka memanggilnya kepala suku. Sampai saat ini. Tampaknya itu sudah melekat di benak teman-teman yang sekarang sudah hampir menguasai seluruh kota-kota besar di pulau Jawa.

Kadang kita pernah ngumpul jika pas kebetulan kita mempunyai waktu libur yang bersamaan. Kita kumpul-kumpul saling bercerita tentang keadaan kampus mereka masing-masing. Ada yang kuliah di Kampus idaman semua pelajar SMA, Universitas Indonesia. Dia ambil jurusan Teknik Akuntasi. Sedikit bergeser ke Bandung, ada yang di Polman (Politeknik Manufaktur). Bergeser sedikit ke tetangganya Bogor. Ada yang di IPB (Institut Pertanian Bogor) di jurusan Manajemen Sumber Daya Alam. Meloncat lebih jauh ke kota Ngayogyokarto atao yang lebih dikenal dengan sebutan Jogja Never Ending Asia. Kota yang terkenal aman tentram dan damai. Di Universitas Gajah Mada yang konon katanya adalah universitas terbaik di Indonesia dalam sebagian aspek. Mereka yang S1 berada di Fisika dan Fakultas paling elite di sana yaitu Ekonomi jurusan Manajemen. Tak heran memang. Sedikt bergeser kea rah utara. Kita ketemu dengan ibu kota jawa tengah yaitu Semarang. Disana ada UNDIP (Universitas Diponegoro) tempatnya bercokol temanku di Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Kita sebaiknya bergeser kemana?? Langsung ke Surabaya lewat Pantura? Atau kita ikuti arah Bis Sumber Kencono? Ah lewat Solo aja yah? Tempatnya berkumpul lagu-lagu inspirasi dari The King of Campursari Didi Kempot. Sebut saja lagu Stasiun Balapan, terminal Tirtonadi dan lainnya. La… di kota ini kita akan ketemu dengan temanku yang mempunyai hasrat ingin meneruskan bapaknya yang kebetulan sudah mapan dengan profesinya sebagai dokter. Makanya dia tanpa ragu untuk memilih kuliah yang sama di Fakultas Kedokteran tanpa memikir biaya masuknya yang kadang kita pernah membayangkan berapa uangnya. Ah… tapi itu bukan urusan kita. Toh bapaknya juga punya uang dan bapaknya juga tidak minjem ke kita. Tepat 2jam sampailah kita pada My Home Town. Madiun AE.

Dengan naik Bus Sumber Kencono lagi, kita akan melancong ke kota pahlawan Surabaya yang akan kita tempuh kira-kira 4jam. Di awali dengan kampus yang berada di seputaran Keputih. ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) disana ada ada yang ngambil jurusan Teknologi dan ada pula yang telekomunikasi. 3 anak yang berada di sini. Di Unesa yang akan mencetak calon guru atau Cagur ada satu yang mengmbil jurusan olahraga. Masih di sekitaran Surabaya, ada kampus yang katanya elite, yaitu Unair. Disana kelas IPA5 atau kita menyebutnya Skuad5 menyumbang 2mahasiswa di Fakultas Saintek jurusan Matematika. Satu mahasiswa di akuntasi, 2mahasiswa lagi di sosiolog dan yang terakhir ada di Ekonomi Islam. Kira-kira 2 atau 3jam kita sampak pada kota Malang yang katanya orang-orang terkenal sangat dingin tapi sekarang sungguh sangat beda keadaannya. Atau mungkin terkena dampak pemanasan Global yang saat ini lagi ramai untuk diperdebatkan. Bahkan ada yang sudah memprediksi kemarin aku baca di Kompas, bahwa 2050 Jakarta akan kehilangan Wisata terbaiknya yaitu Ancol. Sungguh sangat mencengangkan. Apalagi ada yang memprediksi bahwa seabad lagi bumi kita akan ditenggelamkan oleh air laut yang disebabkan oleh mencairnya gunung es. Apakah memang Malang juga akan terjadi bencana tenggelamnya Pulau layaknya di Ancol? Tapi tak mungkin. Karena Malang berada di kawasan pegunungan. Kalo Malang sampek tenggelam. Bagaimana dengan kota-kota yang lain. Apa kata dunia???

Di malang kita menempatkan dua mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim. Yang satu ada di Fakultas Humoniora dan Budaya di jurusan Bahasa Inggris dan yang satunya berada di Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen. Dia itu adalah aku. Kami berdua di sini seperti orang yang baru babat alas. Cuma baru kita sepanjang sejarah. Loncat ke tetangga kita, di UnBraw. Kita menetapkan 2mahasiswa di jurusan Akuntasi. Loncat lagi ke depan kampus UB, kita ketemu dengan UM (Universitas Negeri Malang). Kok gak UNM? Disini terpaksa mengalah sama mungkin yang lebih tua umurnya dengan yang ada di Makasar. Begitu kata orang-orang. Kita menempatkan 2mahasiswa di jurusan Teknik Sipil dan keguruan Bahasa Indonesia.

Tampaknya Malang menjadi singgahan terakhir bagi perjalanan panjang kelas kami. Kami belum sampai ekspansi sesuai dengan jalurnya yang biasa disebut Expantion Path dalam Ekonomi Mikro jika pengen memperluas usahanya.


***


Sampai akhirnya sudah hampir jam delapan. Aku kebagian jaga stand untuk organisasi baru di Fakultas Ekonomi yang baru saja diresmikan persis sehari setelah Presiden terpilih Amerika Serikat dilantik. Kitapun juga sama besok harinya. Aku datang jam 8 kurang 3menit. Tapi temanku sudah tetep mengawasiku dalam setiap perjalananku. Terlambat 2menit. 4menit. Dia selalu mengirim sms tentang aku yang harus datang ontime…time..time… Akhirnya aku datang juga. Dia sempet marah ketika aku terlambat 4menit tadi. Aku tahu dia akan marah karena keterlambatanku. Tapi pinternya aku, aku bawa gorengan yang kira-kira akan menyogok dia agar tidak terlalu marah. Akhirnya dia tersenyum. ;p

Ternyata ketapelku, begitu kita menyebutnya, malah datang lebih terlambat. Tapi gak masalah. Bagiku dia udah datang juga sudah terima kasih. Kita akhirnya buka stand dan langsung dikroyok oleh maba. Kita melayanni tamu layaknya seorang receptionis. Kami ramah menghadapi mereka. Sampai akhirnya temen-temen datang karena jam kuliah pun sudah mendekati jam9. Itu artinya dosen kita akan segera masuk. Kamipun menutup stand untuk sementara waktu. Ya??

Kita buka lagi setelah kami pulang kuliah kira-kira jam setengah sebelas. Kami disana jaga stand sambil tertawa renyah untuk melepas kepenatan. Setelah setengah jam berlalu, kamipun harus pisah. Karena kami adalah laki-laki yang sholeh. Harus ikut jumatan.

Stand pun tetap buka. Karena hari itu adalah hari terakhir kita buka stand. Besok kita harus memulai acaranya. Sampai saat ini kita mendapat peserta 31mahasiswa. Lumayan. Teman kami yang wanita yang kebetulan dapat dispensasi untuk tidak sholat tetap menjaga di sana. Karena setelah Jumatan nanti kita juga akan ada kuliah lagi. Jadi ya langsung.

Sampai setelah Jumatan, aku baru sempat untuk sarapan. Sarapan? Tidak tahu aku harus menyebutnya apa? Karena dalam pelajaranku waktu kursus di Pare kemaren juga juga ada perdebatan tentang ini. Bukan sebuah perdebatan sih, cuma sebuah wacana. Judulnya “Breakfast or Lunch”. Sama kasusnya seperti aku yang sekarang ini. Entah makan pagi atau makan siang. Tapi kayaknya memang seperti mahasiswa yang lain yang makan selalu lebih dari jam 9. Itupun masih terlalu pagi untuk sebagian kalangan mahasiswa. Apalagi mereka yang sangat aktif dengan kegiatannya. Makanya, pada waktu aku pulang di rumah pun aku merasa canggung jika harus sarapan jam6 atau jam 7 pagi. Aneh, tidak biasa ini aku punya perut. Makanya ibu sering marah-marah jika harus makan siang-siang seperti itu. Katanya mumpung ada di rumah. Waktunya untuk penggemukan badan. Lama-lamapun aku juga sudah terbiasa.

Sembari aku masih asyik melahap nasi yang baru saja aku beli itu, ada pesan masuk dalam hape Motorola C168-ku. Aku melihatnya dari siapa pesan itu masuk. Oh,, ternyata dari temanku. Dia minta ijin untuk pulang sholat sebentar. Itu tandanya di sana masih ada satu temanku yang kebagian dispensasi itu. Dia masih tetap disana. Aku kirim pesan kepadanya. Apakah perlu teman untuk jaga disana? Kebetulan temanku yang satu ini sangat menjaga perangainya. “Boleh” jawabnya. Tapi tentu dia punya syarat untuk itu. Jarak antara kita harus 30cm kalau dia boleh bilang. Meskipun sambil tersenyum dia menjawabnya. Aku paham itu.

Akupun berangkat menghampirinya di kampus sambil menenteng tasku dan langsung kuliah maksudku. Sampai di sana aku disambut dengan senyumnya. Tapi tak lama kemudian ketapel dari acara kita juga sudah menampakkan batak hidungnya. Akhirnya kita tidak jadi hanya berduaan. Memang kami harus menjaganya. Akhirnya semua telah datang dan bersiap untuk menerima pelajaran kuliah Hadist Ekonomi pada waktu itu. Kami pun masuk.

Setelah kuliah kami masih harus jaga stand lagi karena memang acaranya besok. Jadi inilah usaha terakhir kita. Ketika kita menunggu para pelanggan datang. Pak Roy sebagai pemateri dalam acara kita besok menelpon dan mintawaktu kepada para panitia untuk menemuinya. Tanpa piker panjang kita bilang “iya”. Langsung sebagian diantara kita meluncur ke fakultas untuk mendapatkan ijin dari pihak fakultas dan menginfomasikan bahwa akan ada tamu yang akan kesini. Kamipun menyiapkan segalanya yang perlu dipersiapkan. Kami menyiapkan ruangan Pembantu Dekan 2 untuk menemui beliau yang kebetulan PD 2 tersebut sudah pulang kator. Kami telah berbincang-bincang mengenai konsep apa yang akan kita terapakan dalam acara besok. Ada teman yang menanyakan apa sih sebenarnya Perdagangan Derifatif itu sendiri. Sampai dirasa sudah cukup akhirnya kami menyudahi pertemuan kali ini dengan berharap acaranya besok bisa berjalan dengan lancar.

---000---

Hari Sabtupun telah tiba. Aku bangun bagi dengan penuh semangat dengan membawa harapan-harapan baru yang ada di bahu ini. Aku mulai hariku dengan mendengarkan Aa’Gym di radio KDS FM 97.80. Itulah yang membuat spiritku untuk terus berkarya terus membara. Selalu ingat pesannya Aa’ tentang kiat mengubah bangsa. Mulai dari yang kecil, Mulai dari diri sendiri dan Mulai dari saat ini. Cobalah untuk berpikir. Apalagi yang kurang. Jika kita ingin melakukan sesuatu selalu ingat dengan tiga slogan tersebut. Misalnya kita ingin memulai tertib membuang sampah pada tempatnya. Jangan dulu lihat orang lain yang dengan sesukanya membuang sampah sembarangan, tapi lihatlah diri ini. Apakan kita juga sudah benar-benar buang sampah pada tempatnya? Mulailah dengan diri Anda sendiri terlebih dahulu. Nasihat yang baik bukan yang keluar dari mulut, tapi nasihat yang baik adalah contoh perbuatan itu sendiri. Kalaupun masih ada yang membuang sampah tepat di hadapan kita, berarti itu Allah memilih kita untuk kebagian amal dengan memungutnya dan langsung masukkan ke dalam tempat sampah. Begitulah kiranya.

Sampai tepat pada waktunya jam 07:45. Aku harus berangkat ke kampus. Karena kita sudah janjian bahwa panita akan datang lebih awal dibandangkan peserta. Acara akan dimulai jam 09:00 tepat. Kita akan mencoba untuk ontime. Itulah yang akan menjadi differentiation dari organasasi yang lain. Semua telah kita persiapkan. Yang belum jadi adalah urusan kesekretariatan yang kebagian untuk memfotokopi materi yang akan disampaikan dalam acara nanti. Tak tahunya acara masih setengah jam akan dimulai, pemateri sudah datang di lantai…..


To be continue…


Mbak Yuli’s house

12:09

28 maret 09

Pendem, junrejo Batu

Keadaanku

Version:1.0 StartHTML:0000000168 EndHTML:0000007570 StartFragment:0000000487 EndFragment:0000007553

My Conditions…

Menulis? Itu yang sekarang didengung-dengungkan oleh banyak kalangan di lingkunganku. Entah apa maksudnya? Ataukah aku yang terlalu peka untuk melakukan pekerjaan yang satu ini. Tak ada salahnya, kayaknya memang aku harus keluar dari zona nyaman seperti yang aku alami saat ini. Betapa tidak, aku bahkan tidak melakukan sesuatu pun yang sangat bermanfaat untuk diri aku sendiri minimal. Sementara temenku, udah ada yang memutuskan untuk menjadi khufadz dalam situasi yang menurut aku sangat imposible. Tapi dia yakin akan bisa. Ada juga yang memutuskan untuk membuat sebuah omlete yang kini ia kerjakan sendiri. Ia harus pergi ke pasar untuk mendapatkan bahan-bahan yang lebih terjangkau agar mendapat margin laba yang relatif lebih besar. Ada juga teman ku yang sudah berani menjadi makelar buku kalau boleh dikatakan seperti itu. Mereka berani menawarkan buku dengan harga seperti yang ada di pasaran dengan harga yang menjadi idola di kalangan mahasiswa. Atau yang lebih mencengangkan lagi adalah temanku yang benar-benar berani untuk meluangkan kumpul, belajar dan yang pasti jam tidurnya untuk menjaga sebuah took di dekat kos-kosannya. Apa lagi yang kurang yang membuatmu tidak semangat? Apa kau harus menunggu ssemua temanmu sukses dank au hanya akan bisa melihatnya? Mau???

Aku yakin kamu tidak akan mau FUAD, coba bayangkanlah! Kau selalu dipercaya teman-temanmu untuk melakukan hal-hal yang sanagt penting baginya. Kau dipercaya dan ditunjuk untuk memimpin sebuah organisasi baru yang sangat membutuhkan sosok kepemimpinan dan proses yang sangat tangguh. Kau juga pernah ditunjuk untuk menjadi ketua tingkat dalam beberapa kelas di jurusanmu. Kau dipercaya sebagai kepala Staf Perusahaan yang difungsikan sebagai mesin pencetak uang kalo boleh dibilang secara kasarnya. Karena mereka percaya Kamu dari jurusan ekonomi yang nantinya akan bisa survival dalam setiap langkahmu. Bahkan tidak sedikit pula yang pernah menawarkan modalnya kepadamu untuk kau kelola secara matang. Karena apa? Karena mereka percaya. Karena mereka tahu Kamu mampu. Karena mereka melihat sosok keseharianmu yang berbeda dari yang lain. Kamu pasti bisa FUAD.

Lantas apa lagi yang membuatmuragu untuk melangkah lebih jauh. Keluar dari pikiran eksak-mu. Sekang kamu bukanlah orang yang matematis yang segalanya rumus dapat kau hafal meskipun menyisakan sedikit-sedikit. Tapi sekarang kamu adalah seorang yang akan dicetak menjadi penggagas bisnis. Menciptakan lapangan pekerjaan untuk teman-teman yang belum bisa mendapatkan kesempatan belajar seperti dirimu. Kau punya kesempatan FUAD. Semua hari-hari yang kau jalani ini tidaklah gratis setiap harinya. Setiap detikmu hidup di Malang ini adalah rupiah. Setiap nafas yang kau hembuskan di Malang ini adalah jerih payah kakakmu yang tidak akan dating dan mengalir terus menerus. Saatnya diapun juga harus memikirkan kehidupan yang lebih tinggi. Tak pernahkah kau ingat rumah yang betapa susah payah ketika menyekolahkan kamu. Apalagi jika pas kau pulang. Orang rumah akan merasa sangat senang sekali. Kita bisa kangen-kangenan sambil cerita-cerita di warung milik kamu sendiri. Ada berita apa saja yang terjadi selama aku berada di Malang. Mereka sangat bersuka ria menceritakan itu semua. Akupun juga melakukan demikian. Aku selalu bercerita keadaan dan situasi kota Malang itu sendiri. Kalopun aku cerita organisasi biasanya kadang sulit nyambungnya. Karena aku harus menggambarkan kronologis kejadianya. Tapi aku sangat menikmatinya. Luar biasa rasanya. Belum lagi kalo sampek ketemu sama teman-teman maen bola dulu, pasti kita saling ejek-ejek kecil yang memang biasa kita lakukan. Mereka sangat senang ketika mendengar aku akan pulang. Tapi harus masih di perjalanan. Karena mereka akan mendapat sebungkus nasi pecel jika nanti aku sampai rumah. Sebagai gantinya aku dijemput tiga sampai lima anak. Merka tidak peduli akan pulang jam berapa aku nanti, pasti akan mereka tunggu. Dini hari sekalipun itu. Sungguh kebahagiaan yang sangat besar aku rasakan. Belum lagi ketika aku pergi ke masjid, bertemu dangan tetangga-tetangga. Selau mereka berkata, “Ee…kapan datang Ad? Libur?”. Seolah-olah aku merasa sangat dihormati dan disegani. Belum lagi nanti ketemu dengan teman-teman ngaji dulu. Mereka tanya-tanya tentang bagaimana kuliah dengan pertanyaan penuh rasa hormat. Karena memang usianya pada masa-masa sma. Tapi ada hal yang membedakan. Mereka rata-rata sekolah di sekolah kejuruan yang memang lebih dipersiapkan untuk dunia kerja. Tapi itu semua tidaklah penting bagiku. Yang penting ada semangat untuk terus belajar, bisa kok.

Tapi ketika aku akan berangkat study ke malang lagi, suasananya terasa begitu beda. Ketika aku harus ke ke rumahnya kakakkuyang kebetulan masih ngontrak hanya sekedar untuk mendapatkan uang saku. Lalu kakak yang ada di rumah pun ikut menyisakan uang dari hasil kerja suaminya yang belum begitu mapan untuk diberikan kepada aku. Belum nanti bapak dan ibu yang harus mengurangi balanjanya untuk took hanya demi memberangkatkan anak bungsunya ini ke tempat belajarnya. Tapi ya memang begitulah keadaanya. Kita berempat dari dulu selalu bergotong royong. Pernah ketika kita masih kecil. Mungkin aku masih usia 7tahunan. Kita sepakat untuk beli raket dari hasil uang saku pada waktu lebaran. Kalo tidak salah harganya sekitar 20ribuan. Sungguh kerjasama saudaranya yang sangat aku kagumi. Senang rasanya.

Sekarang banyak yang bilang bahwa aku ketiban enaknya saja. Bagaimana tidak, semua kakak-kakakku sedah mungkur kalo dalam istilah jawanya. Atau sudah menjadi orang semua. Tinggal aku yang harus terus berproses. Menempa pendidikan yang lebih tinggi. Dengan harapan tentunya akan bisa menjadi orang yang berbakti pada orang tuaku. Sekarang impianku pada orang tuaku adalah bisa memberangkatkan Beliau untuk pergi haji ke tanah suci Makkah. Amin…



04 March ‘09

5:46 PM