Rabu, 18 November 2009
Berkah Cost
Dalam kita menghitung laba, yang kita kenal selama ini adalah adalah biaya yang kita dapat (TR/ Total Revenue) dikurangi dengan biaya yang kita keluarkan (TC/ Total Cost). Disinilah letak kekurangannya ketika ilmu konvensioanal yang selama ini kita agung-agungkan.
Dimana alokasi dana hanya untuk dua arah, yaitu total yang masuk dikurangi total yang keluar, tanpa memandang factor lain yang kadang itu malah menjadi poin penting. Ternyata masih butuh pembenahan dan itu menjadi pokok ataupun dasar dalam kita melakukan proses produksi.
Justru kita sebagai seorang muslim, memandang BC (Berkah Cost) ini menjadi persyaratan ataupun cost yang lebih signifikan atau boleh dibilang yang wajib dikeluarkan
Orang kadang-kadang malah melupakan sesuatu yang menjadi “core” dari sebuah proses produksi ataupun dalam berbagai aktivitas lainnya. Kita tidak boleh lagi berpikir pragmatis dalam melakukan sesuatu. Boleh kita mengatakan ketika BC itu muncul, malah justru mengurangi total laba yang kita dapatkan. Jadi BC mempunyai alokasi biaya sendiri yang nantinya justra akan mengurangi tingkat laba. Tapi itu dalam ilmu matematis. Misalnya ketika kita mempunyai laba sebesar 100, kemudian kita mengambilnya untuk sebuah konsumsi sebesar 30, maka semua orang matematis akan berpikir bahwa uang kita hanya tinggal 70, dan ketika kita akan mengambilnya lagi sebesar 40, maka uang kita hanya tinggal 30. Sangat matematis bukan.
Tapi tidak dalam ilmu agama. Biaya yang kita keluarkan selama itu tetap di jalan Tuhan, maka bukan hanya cash yang akan kita dapat, tapi akan ada faktor lain yang berbicara. Jadi ketika melakukan proses produksi dan mendapatkan nominal dari penjualan yang kita lakukan sebesar 140. Sedangkan total cost (TC) yang kita keluarkan adalah sebesar 90. Maka secara matematis, laba yang akan kita dapatkan adalah sebesar 50. Tanpa adanya BC, laba kita kana tetap utuh sebesar 50. Akan tetapi jika kita melakukan alokasi untuk BC sebesar 20, maka laba yang kita dapatkan akan berkurang menjadi 30. Tentu sangat disayangkan ketika kita berpikir pada jalur nominal saja. Dengan kita mengalokasikan sejumlah dana untuk BC (Berkah Cost).
Tapi tidak dalam ruang lingkup agama. Memang secara riil jumlah nominal laba kita akan berkurang secara signifikan sesuai dengan pengalokasian BC yang kita rencanakan. Akan tetapi jika BC itu kita lakukan akan justru menambah produktifitas hasil kerja kita dan tentunya margin yang kita dapat akan barokan di dunia dan akherat. Karena dalam urusan sedekah kita tidak mengenal adanya perhitungan matematis yang mengatakan bahwa 3 dikurangi 1 hasilnya pasti 2. Justru bisa jadi 3 dikurangi 1 hasilnya malah 5 atau bahkan 7. Siapa tahu???
Itulah hukum alam. . .
Kertosariro, 12 Nov 2009
05:00 AM
Kamis, 22 Oktober 2009
I'll be Back
Aku harap Anda tidak akan pernah bosan dan akan selalu menunggu tulisan-tulisan kecil yang telah kami buat.
Hargailah niat baik kami untuk selalu terus belajar dan belajar dalam penulisan...
Kita maju bersama...
Let's go!!!
Kamis, 18 Juni 2009
Menemukan “Lentera Jiwa”
Itu jika mereka tergolong mahasiswa yang hampir rajin. Maksudnya sudah memikirkan tugas ketika diberikan pada waktu itu. Tapi parahnya, ada yang baru memikirkan tugas sehari sebelum atau H-1 dari pengumpulan tugas tersebut. Ini jauh lebih parah. Pasti mereka akan mengerjakannya secara mendadak dan menghalalkan segala cara. Mereka akan langsung datang ke warnet dan membuka google.com sebagai search engine dalam menyelesaikan tugasnya. Sistem copy and paste menjadi alternatif terakhir baginya. Mereka akan sangat cepat menemukan tugas-tugasnya dalam web itu.
Yang ingin saya tanyakan di sini adalah, apakah motivasi Anda para mahasiwa untuk datang ke kampus dan mengikuti kuliah di universitas ternama jika mengeluh ketika ada tugas? Bukankah Anda kuliah memang seharusnya mencari tantangan? Bukankah Anda membayar mahal untuk kuliah hanya ingin mendapatkan masalah berupa tugas?
Ada juga kisah teman saya yang merasa sedang menghadapi masalah karena dia merasa bahwa dia sedang salah jurusan. Dia mahasiswa ekonomi yang sangat gandrung akan sastra. Dia merasa bahwa Jurusan Ekonomi telah menghukum dia dan mengharuskan dia untuk berpuasa terhadap nafsu sastranya. Aku cukup merasakan tekanan batin yang dialaminya. Banyak hal-hal yang membuatnya harus pasrah. Dia merasa sudah berusaha belajar sama persis dengan temannya yang baginya ia anggap lebih pandai. Bahkan dia melakukan lebih dari temannya, ketika melihat temannya sudah tertidur lelap. Tapi hasilnya nihil. Tetap temannya yang mendapat nilai yang lebih bagus.
Banyak juga mahasiswa yang seperti kasus di atas yang merasa salah jurusan. Banyak motif yang melatarbelakangi mereka. Ada yang masuk jurusan karena memang belum tahu jelas tentang apa yang dipelajarinya nanti. Ada yang masuk jurusan tertentu gara-gara pacarnya (yang belakangan akhirnya mereka putus juga) atau hanya berdasar pada solidaritas teman. Tapi dari sekian banyak mereka yang salah jurusan dan akhirnya sekarang tidak bahagia adalah mereka yang mengikuti jurusan karena keinginan orang tua.
Dalam salah satu episodenya, Kick Andy pernah membahas tentang ini. Mereka para mahasiswa yang merelakan bangku kuliahnya untuk mengikuti kata hatinya yang sudah tak terbendung lagi. Mereka sudah benar-benar merasa tidak bahagia dengan kuliah yang dihadapinya. Dalam episode ini Andy F. Noya yang keluar dari Metro TV milik Surya Paloh sebagai pimpinan redaksi tersebut memberi tema, “Lentera Hati”.
Dalam acara tersebut, di awali dengan cerita tentang Andy sendiri yang menceritakan mengapa ia harus keluar dari Metro TV. Yang pertama kali ia jelaskan dan tekankan bahwa ia keluar dari Metro bukan karena ‘pecah kongsi’ dengan Surya Paloh, bukan juga karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan ‘power’ yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri. Tapi itu adalah keputusan besar yang harus dia ambil.
Lalu dia bercerita juga bahwa dua keputusan besar dan sulit yang harus Bang Andy ambil dalam hidupnya. Pertama, ketika dia tamat STM dan tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang dan lebih memilih untuk melanjutka studinya ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung beban kuliahnya sendiri. Kedua, yaitu tadi, ketika dia harus memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.
Pernah dalam suatu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change, membahas mengapa seorang Andy F. Noya harus keluar dari Metro TV. “Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.”
Ada contoh lain, yaitu Bara Patirajawane. Anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. ‘’Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini,’’ ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.
Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.
Simak juga bagaimana Gede Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.
Dalam beberapa kasus, banyak kita jumpai orang-orang yang tidak merasa bahagia dengan profesi yang dijalaninya. Banyak yang sudah menduduki posisi puncak dalam karirnya tetapi mereka belum menemukan kebahagiaan. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa ‘lentera jiwanya’ bukan pada bidang yang dia geluti saat ini. Dia merasakan itu. Tapi dia takut melompat kepada bidang dimana ‘lentera jiwanya’ tersebut berada. Ia takut untuk memulainya lagi dari bawah. Ia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan menjadi berantakan. Maka dia terus menjalani sisa hidupnya dalam dilemma itu dan sekali lagi, dia tidak bahagia.
Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja atau kuliah di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. ‘’Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya,’’ ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun. Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. ‘’Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya,’’ katanya.
Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaan atau kuliahnya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf kuliah atau bekerjanya adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.[]
Rabu, 27 Mei 2009
Kompetisi yang Berbuah Menang-Menang
fufa_fe@yahoo.co.id
Presiden incumbent, Susilo Bambang Yudhoyono mengharapkan dalam pilpres 8 Juli mendatang akan berjalan dengan lancar. Tidak ada lagi tindak anarkis yang dilakukan dalam kampanye para partai pendukung pasangan capres-cawapres. "Kami berharap kompetisi ini dapat berjalan dengan tertib, ksatria, dan bermartabat sesuai dengan undang-undang dan pengaturan KPU. Kami harus melaksanakan debat, kegiatan kampanye, dan lainnya berharap semua dapat dilaksanakan secara berbudaya dan beretika," papar SBY, saat prosesi pendaftaran capres dan cawapres, di kantor KPU, Jakarta, Sabtu (16/5).
SBY juga menganjurkan agar dalam pilpres kali ini tentu lebih bijak. Dari segi sistem, pemilu adalah hal yang kompleks. Namun ia percaya, pengalaman dari pemilu legeslatif pada 9 April kemarin, dapat menjadi pelajaran dalam pilpres kali ini. “Merupakan pembelajaran politik dan demokrasi bagi kita.” Lanjutnya. Ia mengakui, kompetisi bisa berjalan dengan keras dalam politik. Namun, sejauh ini, kondisi rakyat tetap tentram, teduh, dan tenang.
Kita tentunya berharap, agar kompetisi dalam pilpres nanti merupakan kompetisi yang sehat yang menggunakan kaidah menang bersama. Hendaknya para pasangan calon mempunyai pemikiran menang bersama dalam pilpres nanti dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Berpikir menang-menang merupakan sikap hidup. Berpikir menang-menang merupakan dasar untuk dapat hidup berdampingan dengan orang lain. Berpikir menang-menang dimulai dengan kepercayaan bahwa kita adalah setara, tidak ada yang di bawah ataupun di atas orang lain. Hidup bukanlah kompetisi. Mungkin kita memang menjumpai bahwa dunia bisnis, sekolah, keluarga, olah raga adalah dunia yang penuh kompetisi, tetapi sebenarnya kita sendiri yang menciptakan dunia kompetisi. Hidup sebenarnya adalah relasi dengan orang lain. Berpikir menang-menang bukanlah berpikir tentang menang-kalah, kalah-menang ataupun kalah-kalah.
Pertama, Win-Lose (Menang-Kalah)Paradigma ini merupakan jika “saya menang, anda kalah”. Dalam gaya ini seseorang cenderung menggunakan kekuasaan dan jabatan untuk mendapatkan apa yang diharapkan dengan menghalalkan segala cara. Bahkan dengan mengorbankan orang lain. Dengan cara pandang yang seperti ini, ia berpikiran bahwa jika ia menang dan orang lain pasti kalah. Jika ada seseorang yang menang, dia akan berpikir bahwa dirinya pasti kalah. Sikap yang seperti ini tidak akan pernah berhenti. Ia menganggap kemenangan harus mengorbankan orang lain. Pihak yang kalahpun akan merasa kecewa, sakit hati dan merasa dibaikan.
Sikap menang-kalah ini lebih dikarenakan oleh sikap yang selalu mencoba memaksakan kehendak tanpa memperhatikan perasaan orang lain. Disamping itu, ia juga berusaha menjelek-jelekkan orang lain supaya diri sendiri kelihatan lebih baik.
Kedua, Lose-Win (Kalah-Menang). Paradigma ini menggambarkan seseorang yang tidak mempunyai harapan, visi ataupun tujuan hidup. Ia cenderung ingin menyenangkan atau memenuhi permintaan orang lain. Selalu bilang “ya” untuk urusan orang lain. Meskipun kadang ia harus mengesampingkan kepentingan pribadi. Ia mencari kekuatan dari popularitas. Karena gaya berpikir seperti ini lebih mementingkan popularitas, maka menang bukanlah target utama dalam misinya. Sehingga banyak perasaan terpendam dan tidak terungkapkan sehingga akan menyebabkan penyakit psikosomatik seperti sesak napas, gangguan sistem peredaran darah yang merupakan perwujudan dari kekecewaan dan kemarahan yang sangat mendalam.
Ketiga, Lose-Lose (Kalah-Kalah). Biasanya terjadi jika orang yang bertemu sama-sama mempunyai paradigm manang-kalah. Karena keduanya tidak bisa bernegosiasi secara sehat. Maka keduanya berpikir jika tidak ada yang menang, lebih baik keduanya sama-sama kalah. Sifat cemburu (jealous) selalu meliputi mereka. Mereka berpusat pada musuh, yang ada hanya perasaan dendam tanpa menyadari jika orang lain kalah dan dirinya kalah, sama saja dengan bunuh diri.
Keempat, Win-Win (Menang-Menang). Menang-menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama dalam berbagai kondisi. Bahkan dengan musuh sekalipun. Mereka (orang menang-menang) mengusahakan semua pihak merasa senang dan puas dengan pemecahan masalah atau keputusan yang diambil. Paradigma ini memandang kehidupan sebagai ajang untuk bekerjasama bukan persaingan.
Banyak cara yang sebenarnya bisa ditempuh oleh para capres-cawapres kita. Bukan hanya konsep menang-kalah saja. Alangkah indahnya jika capres-cawapres kita mempunyai paradigma menang-menang (win-win). Mungkin tak akan ada lagi black campain yang dilontarkan oleh ketiga pasangan. Saling olok-olok dan merendahkan yang sekarang masih digunakan oleh para calon.
Alangkah indahnya nanti jika kita melihat para tim pemenangan pemilu mengadakan kampanye bersama dalam satu tempat dan mengadakan orasi secara bergantian. Betapa bangganya kita sebagai rakyat melihat para calon pemimpinnya mempunyai sikap seperti pahlawan sejati dengan tidak menganggap musuh sebagai pesaing. Buat rakyat bingung, mana yang harus dipilih karena semuanya baik dan patut untuk dipilih. Bukan bingung karena semua tak pantas untuk dipilih.[]
*) Penulis adalah mahasiswa manajemen keuangan UIN Malang yang aktif di penulisan juga merangkap sebagai CEO (Chief Executive Officer) Community of Management
Senin, 18 Mei 2009
"Tag Line" Para Pasangan Capres
Di tempat lain, tepatnya di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat telah digelar hal yang serupa. Pengumuman mengenai siapa pendamping yang pantas untuk menjadi wapres dari Megawati. Akhirnya sampai jam 23.30, PDIP menunjuk Prabowo Subiantoro. Dalam pengumuman tersebut Prabowo menyatakan merasa terhormat bisa mendampingi Megawati dalam Pilpres 2009. Pasangan yang telah dimotori oleh PDIP dan Gerindra ini, dalam visi dan misi-nya akan memihak rakyat kecil dan akan mengusahakan sembako murah. Kedua pasangan ini mempunyai tag line agar mudah diingat oleh masyarakat “Mega-Pro”.
Pasangan yang ketiga dari partai Golkar dan Hanura, yakni Jusuf Kalla dan Wiranto yang telah mendeklarasikan jauh lebih dulu daripada kedua calon di atas menamakan dirinya sebagai “JK-Win”
Dari ketiga pasangan capres dan cawapres di atas, masing-masing mempunyai anekdot yang sedikit dapat menyegarkan pikiran kita selama sibuk dalam hiruk-pikuk koalisi yang dilakukan partai. Pertama, SBY berBoedi. Tentu kita tahu bahwa sekarang lagi marak-maraknya nama budi sebagai pemain komedi di salah satu stasiun tv swasta. Nama Budi Anduk begitu dikenal masyarakat apalagi di kalangan anak muda. Apa mungkin nanti tim sukses dari pasangan tersebut menggunakan Budi Anduk sebagai artis dalam iklannya.
Kedua, adalah pasangan dari PDIP dan Gerindra. “Mega-Pro”, tentu kita mengenal itu adalah merk motor dari salah satu perusahaan otomotif di Jepang. Apakah mungkin nanti juga tim sukses “Mega-Pro” akan menggunakan motor dengan merk itu untuk melakukan kampanye.
Untuk pasangan yang ketiga ini malah masih berandai-andai. “JK-Win”. Mungkin anggapan para tim sukses pasangan ini adalah JK atau Jusuf Kalla akan “win” atau menang. Tapi jika kita maknai dengan pengandaian bahwa Jika JeKa Win atau menang. Kalau kalah?
Semuanya itu tag line untuk menarik masyarakat agar mudah diingat dan tidak asing di telinga. Itu adalah salah satu strategi yang memang dipersiapkan untuk menghadapi Pilpres 8 Juli mendatang.
Fuad Fathoni
Ponpes Babul Ulum Tempursari Madiun
Sabtu, 09 Mei 2009
Resensi
Judul Buku : Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politikus
Penulis : Arvan Pradiansyah
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Cetakan : I, Maret 2009
Halaman : XXIV + 130 halaman
Peresensi : Fuad Fathoni *)
Pesta demokrasi telah usai. Kini hanya meninggalkan banyak kenangan yang mungkin tidak bisa kita lupakan begitu saja. Banyak fenomena yang terjadi yang kadang membuat kita tertawa atau bahkan prihatin. Sebut saja peristiwa yang terjadi di Kabupaten Garut. Ada caleg dari kabupaten tersebut yang marah besar sambil berteriak menghujat tim suksesnya. Hal itu terjadi karena diindikasikan telah menebar uang sebelum proses pemungutan suara pada salah satu TPS di wilayah kecamatan Winaraja, Garut
Namun, setelah dilakukan perhitungan suara, hasil sementara menunjukkan kalah telak. Sehingga sempat ditenangkan sekaligus diamankan oleh Polsek setempat. Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Garut, Dadang Sudrajat, menyatakan di ruang kerjanya, "Diharapkan jangan emosional menyikapi perolehan suara sementara, juga hendaknya bisa menerima ikhlas apa pun hasilnya, sekaligus dapat terus-menerus memanjatkan doa kepada Allah SWT," ungkapnya.
Di balik hiruk-pikuk dunia politik yang seperti itu, Arvan Pradiansyah penulis buku best seller “The 7 Laws of Happiness”, malah menulis buku yang menurut saya sangat berani. “Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politikus”.
Minggu, 19 April 2009
Hikmah Hari Ini
Itulah pesan yang disampaikan oleh Bang Arvan penulis buku terlaris Life is Beautiful. Mungkin itu pendapat itu cukup beralasan karena kita lihat banyak fenomena yang terjadi dengan banyaknya Caleg yang stres gara-gara kalah dalam pemilu. Bang Arvan menulis buku barunya yang mengomentari masalah itu dalam buku "Kalau Mau Bahagia Jangan Jadi Politisi" yang baru terbit Maret lalu.
Ahh...
Andai semua politisi kita mempunyai pemikiran seperti Arvan Pradiasyah
Jumat, 17 April 2009
Jumat 13 Maret
Hari ini aku kebagian jadwal masuk jam 09.00. hari Jumat tepatnya. Aku ada kuliah study Hadist. Aneh ya mata kuliah ku? Ya inilah matakuliah ku setiap hari. Karena aku sekarang belajar di instansi yang berada di bawah naungan Depag. Sangat jauh beda dengan yang aku alami saat SMA dulu yang terkesan sangat sekuler. Bayangkan saja dalam satu minggu aku hanya dapat pelajaran Agama selama dua jam. Itupun sering kosong. Pelajaran agama hanya diajarkan sebagai syarat untuk memenuhi kurikulum saja. Sama sekali tidak ada landasan moral sebagai tujuannya. Yang kita fokuskan Cuma pada pelajaran eksak dan eksak saja. No more. Aku dulu sekolah berangkat jam 6 pagi. Naek sepeda ontel bersama menikmati sejuknya udara di pagi hari. Aku lewati sawah-sawah, rumah tetangga, menyebrang sungai dan akhirnya sampai pada perbatasan. Tapi itu masih perbatasan. Sekolahku masih 5 kilometer lagi kira-kira. Tapi aku tetap santai menikmati sepedah ontelku yang ku kayuh pelan-pelan.
Sampai sekolah aku tak pernah sekali pun terlambat. Aku hampir selalu jadi jajaran sepuluh besar anak-anak kelas yang datang paling awal. Oleh sebab itu teman-teman mempercayakan aku untuk memimpin yang lain. Mereka menyebutnya ketua kelas atau sampai sekarang mereka memanggilnya kepala suku. Sampai saat ini. Tampaknya itu sudah melekat di benak teman-teman yang sekarang sudah hampir menguasai seluruh kota-kota besar di pulau Jawa.
Kadang kita pernah ngumpul jika pas kebetulan kita mempunyai waktu libur yang bersamaan. Kita kumpul-kumpul saling bercerita tentang keadaan kampus mereka masing-masing. Ada yang kuliah di Kampus idaman semua pelajar SMA, Universitas Indonesia. Dia ambil jurusan Teknik Akuntasi. Sedikit bergeser ke Bandung, ada yang di Polman (Politeknik Manufaktur). Bergeser sedikit ke tetangganya Bogor. Ada yang di IPB (Institut Pertanian Bogor) di jurusan Manajemen Sumber Daya Alam. Meloncat lebih jauh ke kota Ngayogyokarto atao yang lebih dikenal dengan sebutan Jogja Never Ending Asia. Kota yang terkenal aman tentram dan damai. Di Universitas Gajah Mada yang konon katanya adalah universitas terbaik di Indonesia dalam sebagian aspek. Mereka yang S1 berada di Fisika dan Fakultas paling elite di sana yaitu Ekonomi jurusan Manajemen. Tak heran memang. Sedikt bergeser kea rah utara. Kita ketemu dengan ibu kota jawa tengah yaitu Semarang. Disana ada UNDIP (Universitas Diponegoro) tempatnya bercokol temanku di Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Kita sebaiknya bergeser kemana?? Langsung ke Surabaya lewat Pantura? Atau kita ikuti arah Bis Sumber Kencono? Ah lewat Solo aja yah? Tempatnya berkumpul lagu-lagu inspirasi dari The King of Campursari Didi Kempot. Sebut saja lagu Stasiun Balapan, terminal Tirtonadi dan lainnya. La… di kota ini kita akan ketemu dengan temanku yang mempunyai hasrat ingin meneruskan bapaknya yang kebetulan sudah mapan dengan profesinya sebagai dokter. Makanya dia tanpa ragu untuk memilih kuliah yang sama di Fakultas Kedokteran tanpa memikir biaya masuknya yang kadang kita pernah membayangkan berapa uangnya. Ah… tapi itu bukan urusan kita. Toh bapaknya juga punya uang dan bapaknya juga tidak minjem ke kita. Tepat 2jam sampailah kita pada My Home Town. Madiun AE.
Dengan naik Bus Sumber Kencono lagi, kita akan melancong ke kota pahlawan Surabaya yang akan kita tempuh kira-kira 4jam. Di awali dengan kampus yang berada di seputaran Keputih. ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) disana ada ada yang ngambil jurusan Teknologi dan ada pula yang telekomunikasi. 3 anak yang berada di sini. Di Unesa yang akan mencetak calon guru atau Cagur ada satu yang mengmbil jurusan olahraga. Masih di sekitaran Surabaya, ada kampus yang katanya elite, yaitu Unair. Disana kelas IPA5 atau kita menyebutnya Skuad5 menyumbang 2mahasiswa di Fakultas Saintek jurusan Matematika. Satu mahasiswa di akuntasi, 2mahasiswa lagi di sosiolog dan yang terakhir ada di Ekonomi Islam. Kira-kira 2 atau 3jam kita sampak pada kota Malang yang katanya orang-orang terkenal sangat dingin tapi sekarang sungguh sangat beda keadaannya. Atau mungkin terkena dampak pemanasan Global yang saat ini lagi ramai untuk diperdebatkan. Bahkan ada yang sudah memprediksi kemarin aku baca di Kompas, bahwa 2050 Jakarta akan kehilangan Wisata terbaiknya yaitu Ancol. Sungguh sangat mencengangkan. Apalagi ada yang memprediksi bahwa seabad lagi bumi kita akan ditenggelamkan oleh air laut yang disebabkan oleh mencairnya gunung es. Apakah memang Malang juga akan terjadi bencana tenggelamnya Pulau layaknya di Ancol? Tapi tak mungkin. Karena Malang berada di kawasan pegunungan. Kalo Malang sampek tenggelam. Bagaimana dengan kota-kota yang lain. Apa kata dunia???
Di malang kita menempatkan dua mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim. Yang satu ada di Fakultas Humoniora dan Budaya di jurusan Bahasa Inggris dan yang satunya berada di Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen. Dia itu adalah aku. Kami berdua di sini seperti orang yang baru babat alas. Cuma baru kita sepanjang sejarah. Loncat ke tetangga kita, di UnBraw. Kita menetapkan 2mahasiswa di jurusan Akuntasi. Loncat lagi ke depan kampus UB, kita ketemu dengan UM (Universitas Negeri Malang). Kok gak UNM? Disini terpaksa mengalah sama mungkin yang lebih tua umurnya dengan yang ada di Makasar. Begitu kata orang-orang. Kita menempatkan 2mahasiswa di jurusan Teknik Sipil dan keguruan Bahasa Indonesia.
Tampaknya Malang menjadi singgahan terakhir bagi perjalanan panjang kelas kami. Kami belum sampai ekspansi sesuai dengan jalurnya yang biasa disebut Expantion Path dalam Ekonomi Mikro jika pengen memperluas usahanya.
***
Sampai akhirnya sudah hampir jam delapan. Aku kebagian jaga stand untuk organisasi baru di Fakultas Ekonomi yang baru saja diresmikan persis sehari setelah Presiden terpilih Amerika Serikat dilantik. Kitapun juga sama besok harinya. Aku datang jam 8 kurang 3menit. Tapi temanku sudah tetep mengawasiku dalam setiap perjalananku. Terlambat 2menit. 4menit. Dia selalu mengirim sms tentang aku yang harus datang ontime…time..time… Akhirnya aku datang juga. Dia sempet marah ketika aku terlambat 4menit tadi. Aku tahu dia akan marah karena keterlambatanku. Tapi pinternya aku, aku bawa gorengan yang kira-kira akan menyogok dia agar tidak terlalu marah. Akhirnya dia tersenyum. ;p
Ternyata ketapelku, begitu kita menyebutnya, malah datang lebih terlambat. Tapi gak masalah. Bagiku dia udah datang juga sudah terima kasih. Kita akhirnya buka stand dan langsung dikroyok oleh maba. Kita melayanni tamu layaknya seorang receptionis. Kami ramah menghadapi mereka. Sampai akhirnya temen-temen datang karena jam kuliah pun sudah mendekati jam9. Itu artinya dosen kita akan segera masuk. Kamipun menutup stand untuk sementara waktu. Ya??
Kita buka lagi setelah kami pulang kuliah kira-kira jam setengah sebelas. Kami disana jaga stand sambil tertawa renyah untuk melepas kepenatan. Setelah setengah jam berlalu, kamipun harus pisah. Karena kami adalah laki-laki yang sholeh. Harus ikut jumatan.
Stand pun tetap buka. Karena hari itu adalah hari terakhir kita buka stand. Besok kita harus memulai acaranya. Sampai saat ini kita mendapat peserta 31mahasiswa. Lumayan. Teman kami yang wanita yang kebetulan dapat dispensasi untuk tidak sholat tetap menjaga di sana. Karena setelah Jumatan nanti kita juga akan ada kuliah lagi. Jadi ya langsung.
Sampai setelah Jumatan, aku baru sempat untuk sarapan. Sarapan? Tidak tahu aku harus menyebutnya apa? Karena dalam pelajaranku waktu kursus di Pare kemaren juga juga ada perdebatan tentang ini. Bukan sebuah perdebatan sih, cuma sebuah wacana. Judulnya “Breakfast or Lunch”. Sama kasusnya seperti aku yang sekarang ini. Entah makan pagi atau makan siang. Tapi kayaknya memang seperti mahasiswa yang lain yang makan selalu lebih dari jam 9. Itupun masih terlalu pagi untuk sebagian kalangan mahasiswa. Apalagi mereka yang sangat aktif dengan kegiatannya. Makanya, pada waktu aku pulang di rumah pun aku merasa canggung jika harus sarapan jam6 atau jam 7 pagi. Aneh, tidak biasa ini aku punya perut. Makanya ibu sering marah-marah jika harus makan siang-siang seperti itu. Katanya mumpung ada di rumah. Waktunya untuk penggemukan badan. Lama-lamapun aku juga sudah terbiasa.
Sembari aku masih asyik melahap nasi yang baru saja aku beli itu, ada pesan masuk dalam hape Motorola C168-ku. Aku melihatnya dari siapa pesan itu masuk. Oh,, ternyata dari temanku. Dia minta ijin untuk pulang sholat sebentar. Itu tandanya di sana masih ada satu temanku yang kebagian dispensasi itu. Dia masih tetap disana. Aku kirim pesan kepadanya. Apakah perlu teman untuk jaga disana? Kebetulan temanku yang satu ini sangat menjaga perangainya. “Boleh” jawabnya. Tapi tentu dia punya syarat untuk itu. Jarak antara kita harus 30cm kalau dia boleh bilang. Meskipun sambil tersenyum dia menjawabnya. Aku paham itu.
Akupun berangkat menghampirinya di kampus sambil menenteng tasku dan langsung kuliah maksudku. Sampai di sana aku disambut dengan senyumnya. Tapi tak lama kemudian ketapel dari acara kita juga sudah menampakkan batak hidungnya. Akhirnya kita tidak jadi hanya berduaan. Memang kami harus menjaganya. Akhirnya semua telah datang dan bersiap untuk menerima pelajaran kuliah Hadist Ekonomi pada waktu itu. Kami pun masuk.
Setelah kuliah kami masih harus jaga stand lagi karena memang acaranya besok. Jadi inilah usaha terakhir kita. Ketika kita menunggu para pelanggan datang. Pak Roy sebagai pemateri dalam acara kita besok menelpon dan mintawaktu kepada para panitia untuk menemuinya. Tanpa piker panjang kita bilang “iya”. Langsung sebagian diantara kita meluncur ke fakultas untuk mendapatkan ijin dari pihak fakultas dan menginfomasikan bahwa akan ada tamu yang akan kesini. Kamipun menyiapkan segalanya yang perlu dipersiapkan. Kami menyiapkan ruangan Pembantu Dekan 2 untuk menemui beliau yang kebetulan PD 2 tersebut sudah pulang kator. Kami telah berbincang-bincang mengenai konsep apa yang akan kita terapakan dalam acara besok. Ada teman yang menanyakan apa sih sebenarnya Perdagangan Derifatif itu sendiri. Sampai dirasa sudah cukup akhirnya kami menyudahi pertemuan kali ini dengan berharap acaranya besok bisa berjalan dengan lancar.
---000---
Hari Sabtupun telah tiba. Aku bangun bagi dengan penuh semangat dengan membawa harapan-harapan baru yang ada di bahu ini. Aku mulai hariku dengan mendengarkan Aa’Gym di radio KDS FM 97.80. Itulah yang membuat spiritku untuk terus berkarya terus membara. Selalu ingat pesannya Aa’ tentang kiat mengubah bangsa. Mulai dari yang kecil, Mulai dari diri sendiri dan Mulai dari saat ini. Cobalah untuk berpikir. Apalagi yang kurang. Jika kita ingin melakukan sesuatu selalu ingat dengan tiga slogan tersebut. Misalnya kita ingin memulai tertib membuang sampah pada tempatnya. Jangan dulu lihat orang lain yang dengan sesukanya membuang sampah sembarangan, tapi lihatlah diri ini. Apakan kita juga sudah benar-benar buang sampah pada tempatnya? Mulailah dengan diri Anda sendiri terlebih dahulu. Nasihat yang baik bukan yang keluar dari mulut, tapi nasihat yang baik adalah contoh perbuatan itu sendiri. Kalaupun masih ada yang membuang sampah tepat di hadapan kita, berarti itu Allah memilih kita untuk kebagian amal dengan memungutnya dan langsung masukkan ke dalam tempat sampah. Begitulah kiranya.
Sampai tepat pada waktunya jam 07:45. Aku harus berangkat ke kampus. Karena kita sudah janjian bahwa panita akan datang lebih awal dibandangkan peserta. Acara akan dimulai jam 09:00 tepat. Kita akan mencoba untuk ontime. Itulah yang akan menjadi differentiation dari organasasi yang lain. Semua telah kita persiapkan. Yang belum jadi adalah urusan kesekretariatan yang kebagian untuk memfotokopi materi yang akan disampaikan dalam acara nanti. Tak tahunya acara masih setengah jam akan dimulai, pemateri sudah datang di lantai…..
To be continue…
Mbak Yuli’s house
12:09
28 maret 09
Pendem, junrejo Batu
Keadaanku
My Conditions…
Menulis? Itu yang sekarang didengung-dengungkan oleh banyak kalangan di lingkunganku. Entah apa maksudnya? Ataukah aku yang terlalu peka untuk melakukan pekerjaan yang satu ini. Tak ada salahnya, kayaknya memang aku harus keluar dari zona nyaman seperti yang aku alami saat ini. Betapa tidak, aku bahkan tidak melakukan sesuatu pun yang sangat bermanfaat untuk diri aku sendiri minimal. Sementara temenku, udah ada yang memutuskan untuk menjadi khufadz dalam situasi yang menurut aku sangat imposible. Tapi dia yakin akan bisa. Ada juga yang memutuskan untuk membuat sebuah omlete yang kini ia kerjakan sendiri. Ia harus pergi ke pasar untuk mendapatkan bahan-bahan yang lebih terjangkau agar mendapat margin laba yang relatif lebih besar. Ada juga teman ku yang sudah berani menjadi makelar buku kalau boleh dikatakan seperti itu. Mereka berani menawarkan buku dengan harga seperti yang ada di pasaran dengan harga yang menjadi idola di kalangan mahasiswa. Atau yang lebih mencengangkan lagi adalah temanku yang benar-benar berani untuk meluangkan kumpul, belajar dan yang pasti jam tidurnya untuk menjaga sebuah took di dekat kos-kosannya. Apa lagi yang kurang yang membuatmu tidak semangat? Apa kau harus menunggu ssemua temanmu sukses dank au hanya akan bisa melihatnya? Mau???
Aku yakin kamu tidak akan mau FUAD, coba bayangkanlah! Kau selalu dipercaya teman-temanmu untuk melakukan hal-hal yang sanagt penting baginya. Kau dipercaya dan ditunjuk untuk memimpin sebuah organisasi baru yang sangat membutuhkan sosok kepemimpinan dan proses yang sangat tangguh. Kau juga pernah ditunjuk untuk menjadi ketua tingkat dalam beberapa kelas di jurusanmu. Kau dipercaya sebagai kepala Staf Perusahaan yang difungsikan sebagai mesin pencetak uang kalo boleh dibilang secara kasarnya. Karena mereka percaya Kamu dari jurusan ekonomi yang nantinya akan bisa survival dalam setiap langkahmu. Bahkan tidak sedikit pula yang pernah menawarkan modalnya kepadamu untuk kau kelola secara matang. Karena apa? Karena mereka percaya. Karena mereka tahu Kamu mampu. Karena mereka melihat sosok keseharianmu yang berbeda dari yang lain. Kamu pasti bisa FUAD.
Lantas apa lagi yang membuatmuragu untuk melangkah lebih jauh. Keluar dari pikiran eksak-mu. Sekang kamu bukanlah orang yang matematis yang segalanya rumus dapat kau hafal meskipun menyisakan sedikit-sedikit. Tapi sekarang kamu adalah seorang yang akan dicetak menjadi penggagas bisnis. Menciptakan lapangan pekerjaan untuk teman-teman yang belum bisa mendapatkan kesempatan belajar seperti dirimu. Kau punya kesempatan FUAD. Semua hari-hari yang kau jalani ini tidaklah gratis setiap harinya. Setiap detikmu hidup di Malang ini adalah rupiah. Setiap nafas yang kau hembuskan di Malang ini adalah jerih payah kakakmu yang tidak akan dating dan mengalir terus menerus. Saatnya diapun juga harus memikirkan kehidupan yang lebih tinggi. Tak pernahkah kau ingat rumah yang betapa susah payah ketika menyekolahkan kamu. Apalagi jika pas kau pulang. Orang rumah akan merasa sangat senang sekali. Kita bisa kangen-kangenan sambil cerita-cerita di warung milik kamu sendiri. Ada berita apa saja yang terjadi selama aku berada di Malang. Mereka sangat bersuka ria menceritakan itu semua. Akupun juga melakukan demikian. Aku selalu bercerita keadaan dan situasi kota Malang itu sendiri. Kalopun aku cerita organisasi biasanya kadang sulit nyambungnya. Karena aku harus menggambarkan kronologis kejadianya. Tapi aku sangat menikmatinya. Luar biasa rasanya. Belum lagi kalo sampek ketemu sama teman-teman maen bola dulu, pasti kita saling ejek-ejek kecil yang memang biasa kita lakukan. Mereka sangat senang ketika mendengar aku akan pulang. Tapi harus masih di perjalanan. Karena mereka akan mendapat sebungkus nasi pecel jika nanti aku sampai rumah. Sebagai gantinya aku dijemput tiga sampai lima anak. Merka tidak peduli akan pulang jam berapa aku nanti, pasti akan mereka tunggu. Dini hari sekalipun itu. Sungguh kebahagiaan yang sangat besar aku rasakan. Belum lagi ketika aku pergi ke masjid, bertemu dangan tetangga-tetangga. Selau mereka berkata, “Ee…kapan datang Ad? Libur?”. Seolah-olah aku merasa sangat dihormati dan disegani. Belum lagi nanti ketemu dengan teman-teman ngaji dulu. Mereka tanya-tanya tentang bagaimana kuliah dengan pertanyaan penuh rasa hormat. Karena memang usianya pada masa-masa sma. Tapi ada hal yang membedakan. Mereka rata-rata sekolah di sekolah kejuruan yang memang lebih dipersiapkan untuk dunia kerja. Tapi itu semua tidaklah penting bagiku. Yang penting ada semangat untuk terus belajar, bisa kok.
Tapi ketika aku akan berangkat study ke malang lagi, suasananya terasa begitu beda. Ketika aku harus ke ke rumahnya kakakkuyang kebetulan masih ngontrak hanya sekedar untuk mendapatkan uang saku. Lalu kakak yang ada di rumah pun ikut menyisakan uang dari hasil kerja suaminya yang belum begitu mapan untuk diberikan kepada aku. Belum nanti bapak dan ibu yang harus mengurangi balanjanya untuk took hanya demi memberangkatkan anak bungsunya ini ke tempat belajarnya. Tapi ya memang begitulah keadaanya. Kita berempat dari dulu selalu bergotong royong. Pernah ketika kita masih kecil. Mungkin aku masih usia 7tahunan. Kita sepakat untuk beli raket dari hasil uang saku pada waktu lebaran. Kalo tidak salah harganya sekitar 20ribuan. Sungguh kerjasama saudaranya yang sangat aku kagumi. Senang rasanya.
Sekarang banyak yang bilang bahwa aku ketiban enaknya saja. Bagaimana tidak, semua kakak-kakakku sedah mungkur kalo dalam istilah jawanya. Atau sudah menjadi orang semua. Tinggal aku yang harus terus berproses. Menempa pendidikan yang lebih tinggi. Dengan harapan tentunya akan bisa menjadi orang yang berbakti pada orang tuaku. Sekarang impianku pada orang tuaku adalah bisa memberangkatkan Beliau untuk pergi haji ke tanah suci Makkah. Amin…
04 March ‘09
5:46 PM