Jumat, 17 April 2009

Keadaanku

Version:1.0 StartHTML:0000000168 EndHTML:0000007570 StartFragment:0000000487 EndFragment:0000007553

My Conditions…

Menulis? Itu yang sekarang didengung-dengungkan oleh banyak kalangan di lingkunganku. Entah apa maksudnya? Ataukah aku yang terlalu peka untuk melakukan pekerjaan yang satu ini. Tak ada salahnya, kayaknya memang aku harus keluar dari zona nyaman seperti yang aku alami saat ini. Betapa tidak, aku bahkan tidak melakukan sesuatu pun yang sangat bermanfaat untuk diri aku sendiri minimal. Sementara temenku, udah ada yang memutuskan untuk menjadi khufadz dalam situasi yang menurut aku sangat imposible. Tapi dia yakin akan bisa. Ada juga yang memutuskan untuk membuat sebuah omlete yang kini ia kerjakan sendiri. Ia harus pergi ke pasar untuk mendapatkan bahan-bahan yang lebih terjangkau agar mendapat margin laba yang relatif lebih besar. Ada juga teman ku yang sudah berani menjadi makelar buku kalau boleh dikatakan seperti itu. Mereka berani menawarkan buku dengan harga seperti yang ada di pasaran dengan harga yang menjadi idola di kalangan mahasiswa. Atau yang lebih mencengangkan lagi adalah temanku yang benar-benar berani untuk meluangkan kumpul, belajar dan yang pasti jam tidurnya untuk menjaga sebuah took di dekat kos-kosannya. Apa lagi yang kurang yang membuatmu tidak semangat? Apa kau harus menunggu ssemua temanmu sukses dank au hanya akan bisa melihatnya? Mau???

Aku yakin kamu tidak akan mau FUAD, coba bayangkanlah! Kau selalu dipercaya teman-temanmu untuk melakukan hal-hal yang sanagt penting baginya. Kau dipercaya dan ditunjuk untuk memimpin sebuah organisasi baru yang sangat membutuhkan sosok kepemimpinan dan proses yang sangat tangguh. Kau juga pernah ditunjuk untuk menjadi ketua tingkat dalam beberapa kelas di jurusanmu. Kau dipercaya sebagai kepala Staf Perusahaan yang difungsikan sebagai mesin pencetak uang kalo boleh dibilang secara kasarnya. Karena mereka percaya Kamu dari jurusan ekonomi yang nantinya akan bisa survival dalam setiap langkahmu. Bahkan tidak sedikit pula yang pernah menawarkan modalnya kepadamu untuk kau kelola secara matang. Karena apa? Karena mereka percaya. Karena mereka tahu Kamu mampu. Karena mereka melihat sosok keseharianmu yang berbeda dari yang lain. Kamu pasti bisa FUAD.

Lantas apa lagi yang membuatmuragu untuk melangkah lebih jauh. Keluar dari pikiran eksak-mu. Sekang kamu bukanlah orang yang matematis yang segalanya rumus dapat kau hafal meskipun menyisakan sedikit-sedikit. Tapi sekarang kamu adalah seorang yang akan dicetak menjadi penggagas bisnis. Menciptakan lapangan pekerjaan untuk teman-teman yang belum bisa mendapatkan kesempatan belajar seperti dirimu. Kau punya kesempatan FUAD. Semua hari-hari yang kau jalani ini tidaklah gratis setiap harinya. Setiap detikmu hidup di Malang ini adalah rupiah. Setiap nafas yang kau hembuskan di Malang ini adalah jerih payah kakakmu yang tidak akan dating dan mengalir terus menerus. Saatnya diapun juga harus memikirkan kehidupan yang lebih tinggi. Tak pernahkah kau ingat rumah yang betapa susah payah ketika menyekolahkan kamu. Apalagi jika pas kau pulang. Orang rumah akan merasa sangat senang sekali. Kita bisa kangen-kangenan sambil cerita-cerita di warung milik kamu sendiri. Ada berita apa saja yang terjadi selama aku berada di Malang. Mereka sangat bersuka ria menceritakan itu semua. Akupun juga melakukan demikian. Aku selalu bercerita keadaan dan situasi kota Malang itu sendiri. Kalopun aku cerita organisasi biasanya kadang sulit nyambungnya. Karena aku harus menggambarkan kronologis kejadianya. Tapi aku sangat menikmatinya. Luar biasa rasanya. Belum lagi kalo sampek ketemu sama teman-teman maen bola dulu, pasti kita saling ejek-ejek kecil yang memang biasa kita lakukan. Mereka sangat senang ketika mendengar aku akan pulang. Tapi harus masih di perjalanan. Karena mereka akan mendapat sebungkus nasi pecel jika nanti aku sampai rumah. Sebagai gantinya aku dijemput tiga sampai lima anak. Merka tidak peduli akan pulang jam berapa aku nanti, pasti akan mereka tunggu. Dini hari sekalipun itu. Sungguh kebahagiaan yang sangat besar aku rasakan. Belum lagi ketika aku pergi ke masjid, bertemu dangan tetangga-tetangga. Selau mereka berkata, “Ee…kapan datang Ad? Libur?”. Seolah-olah aku merasa sangat dihormati dan disegani. Belum lagi nanti ketemu dengan teman-teman ngaji dulu. Mereka tanya-tanya tentang bagaimana kuliah dengan pertanyaan penuh rasa hormat. Karena memang usianya pada masa-masa sma. Tapi ada hal yang membedakan. Mereka rata-rata sekolah di sekolah kejuruan yang memang lebih dipersiapkan untuk dunia kerja. Tapi itu semua tidaklah penting bagiku. Yang penting ada semangat untuk terus belajar, bisa kok.

Tapi ketika aku akan berangkat study ke malang lagi, suasananya terasa begitu beda. Ketika aku harus ke ke rumahnya kakakkuyang kebetulan masih ngontrak hanya sekedar untuk mendapatkan uang saku. Lalu kakak yang ada di rumah pun ikut menyisakan uang dari hasil kerja suaminya yang belum begitu mapan untuk diberikan kepada aku. Belum nanti bapak dan ibu yang harus mengurangi balanjanya untuk took hanya demi memberangkatkan anak bungsunya ini ke tempat belajarnya. Tapi ya memang begitulah keadaanya. Kita berempat dari dulu selalu bergotong royong. Pernah ketika kita masih kecil. Mungkin aku masih usia 7tahunan. Kita sepakat untuk beli raket dari hasil uang saku pada waktu lebaran. Kalo tidak salah harganya sekitar 20ribuan. Sungguh kerjasama saudaranya yang sangat aku kagumi. Senang rasanya.

Sekarang banyak yang bilang bahwa aku ketiban enaknya saja. Bagaimana tidak, semua kakak-kakakku sedah mungkur kalo dalam istilah jawanya. Atau sudah menjadi orang semua. Tinggal aku yang harus terus berproses. Menempa pendidikan yang lebih tinggi. Dengan harapan tentunya akan bisa menjadi orang yang berbakti pada orang tuaku. Sekarang impianku pada orang tuaku adalah bisa memberangkatkan Beliau untuk pergi haji ke tanah suci Makkah. Amin…



04 March ‘09

5:46 PM

Tidak ada komentar: