Kamis, 18 Juni 2009

Menemukan “Lentera Jiwa”

Tugas banyak. Itulah keluhan yang selalu didengungkan oleh para mahasiswa. Mereka selalu mengeluh ketika dosen telah mengumumkan bahwa tugas dikumpulkan minggu depan. Negative thingking yang langsung keluar dari benaknya. Mereka sudah membayangkan bahwa nanti pasti akan sulit untuk mengerjakannya. Padahal dikerjakan saja belum. Tapi susahnya sudah terasa mulai dari sekarang. Sungguh menyiksa.

Itu jika mereka tergolong mahasiswa yang hampir rajin. Maksudnya sudah memikirkan tugas ketika diberikan pada waktu itu. Tapi parahnya, ada yang baru memikirkan tugas sehari sebelum atau H-1 dari pengumpulan tugas tersebut. Ini jauh lebih parah. Pasti mereka akan mengerjakannya secara mendadak dan menghalalkan segala cara. Mereka akan langsung datang ke warnet dan membuka google.com sebagai search engine dalam menyelesaikan tugasnya. Sistem copy and paste menjadi alternatif terakhir baginya. Mereka akan sangat cepat menemukan tugas-tugasnya dalam web itu.

Yang ingin saya tanyakan di sini adalah, apakah motivasi Anda para mahasiwa untuk datang ke kampus dan mengikuti kuliah di universitas ternama jika mengeluh ketika ada tugas? Bukankah Anda kuliah memang seharusnya mencari tantangan? Bukankah Anda membayar mahal untuk kuliah hanya ingin mendapatkan masalah berupa tugas?
Ada juga kisah teman saya yang merasa sedang menghadapi masalah karena dia merasa bahwa dia sedang salah jurusan. Dia mahasiswa ekonomi yang sangat gandrung akan sastra. Dia merasa bahwa Jurusan Ekonomi telah menghukum dia dan mengharuskan dia untuk berpuasa terhadap nafsu sastranya. Aku cukup merasakan tekanan batin yang dialaminya. Banyak hal-hal yang membuatnya harus pasrah. Dia merasa sudah berusaha belajar sama persis dengan temannya yang baginya ia anggap lebih pandai. Bahkan dia melakukan lebih dari temannya, ketika melihat temannya sudah tertidur lelap. Tapi hasilnya nihil. Tetap temannya yang mendapat nilai yang lebih bagus.

Banyak juga mahasiswa yang seperti kasus di atas yang merasa salah jurusan. Banyak motif yang melatarbelakangi mereka. Ada yang masuk jurusan karena memang belum tahu jelas tentang apa yang dipelajarinya nanti. Ada yang masuk jurusan tertentu gara-gara pacarnya (yang belakangan akhirnya mereka putus juga) atau hanya berdasar pada solidaritas teman. Tapi dari sekian banyak mereka yang salah jurusan dan akhirnya sekarang tidak bahagia adalah mereka yang mengikuti jurusan karena keinginan orang tua.

Dalam salah satu episodenya, Kick Andy pernah membahas tentang ini. Mereka para mahasiswa yang merelakan bangku kuliahnya untuk mengikuti kata hatinya yang sudah tak terbendung lagi. Mereka sudah benar-benar merasa tidak bahagia dengan kuliah yang dihadapinya. Dalam episode ini Andy F. Noya yang keluar dari Metro TV milik Surya Paloh sebagai pimpinan redaksi tersebut memberi tema, “Lentera Hati”.

Dalam acara tersebut, di awali dengan cerita tentang Andy sendiri yang menceritakan mengapa ia harus keluar dari Metro TV. Yang pertama kali ia jelaskan dan tekankan bahwa ia keluar dari Metro bukan karena ‘pecah kongsi’ dengan Surya Paloh, bukan juga karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan ‘power’ yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri. Tapi itu adalah keputusan besar yang harus dia ambil.

Lalu dia bercerita juga bahwa dua keputusan besar dan sulit yang harus Bang Andy ambil dalam hidupnya. Pertama, ketika dia tamat STM dan tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang dan lebih memilih untuk melanjutka studinya ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung beban kuliahnya sendiri. Kedua, yaitu tadi, ketika dia harus memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.
Pernah dalam suatu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change, membahas mengapa seorang Andy F. Noya harus keluar dari Metro TV. “Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.”

Ada contoh lain, yaitu Bara Patirajawane. Anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. ‘’Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini,’’ ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.
Simak juga bagaimana Gede Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

Dalam beberapa kasus, banyak kita jumpai orang-orang yang tidak merasa bahagia dengan profesi yang dijalaninya. Banyak yang sudah menduduki posisi puncak dalam karirnya tetapi mereka belum menemukan kebahagiaan. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa ‘lentera jiwanya’ bukan pada bidang yang dia geluti saat ini. Dia merasakan itu. Tapi dia takut melompat kepada bidang dimana ‘lentera jiwanya’ tersebut berada. Ia takut untuk memulainya lagi dari bawah. Ia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan menjadi berantakan. Maka dia terus menjalani sisa hidupnya dalam dilemma itu dan sekali lagi, dia tidak bahagia.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja atau kuliah di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. ‘’Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya,’’ ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun. Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. ‘’Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya,’’ katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaan atau kuliahnya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf kuliah atau bekerjanya adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.[]

Tidak ada komentar: