
Banyak fenomena yang kita temukan saat menjelang lebaran, hari H atau bahkan pasca lebaran. Tidak seperti hari libur pada umumnya, menjelang lebaran terasaada kekuatan yang begitu luar biasa yang tumbuh pada pribadi setiap orang yang jauh dari sanak familinya. Kekuatan ingin bertemu dan bersilaturrahmi menjadi makanan wajib setiap lebaran. Meski begitu besar pengorbanan yang harus dikeluarkan. Meski harus rela bermacet-macetan di jalan sampai harus membayar harga tiket yang naik hingga lebih dari 100%. Semua ini rela mereka jalani untuk sekedar bertemu dengan keluarga meski hanya 2-4 hari.
Pada hari H lebaran, suasana gembira dan bahagia dirasakan oleh semua orang. Tidak pandang usia, strata sosial atau bahkan narapidana sekalipun. Pada hari lebaran, anak-anak akan merasa bahagia dengan baju baru dan uang saku dari ibu, bapak, bulek, pak lek, bupuh (Bu De), pak puh (pak De), kakak atau tetangga sekalipun. Bagi orang tua
dan beberapa orang yang sudah bekerja, akan merasa bahagia dengan member kepada teman, keponakan, adik, kakak dan juga orang tua mereka.
Seperti fenomena pada keluarga Sunaryo, karena beberapa anaknya sudah berkeluarga, si anak memberikan uang kepada kedua orang tuanya sebagai tanda terima kasih dan balas busi meski tidak seberapa. Si anak (Arina dan keluarga) merasa senang karena bisa member kedua orang tuanya. Begitu juga sebaliknya, kedua orang tua (kakek dan nenek dari anak Arina) tentu merasa senang karena bisa memberi uang saku kepada cucunya (anak dari Arina). Tetapi karena sang cucu masih balita, belum bisa pegang uang, akhirnya uang itu diberikan kepada ibu bapaknya. Artinya uang tersebut hanya berjalan melingkar. Tetapi semua sudah dapat merasakan kebahagiaan.
Pasca lebaran. Semua stasiun televisi dan surat kabar mengabarkan gebyar arus balik mudik. Menginformasikan tentang jalur utara dan jalur selatan mengenai kepadatan kendaraan. Kemancetan tak dapat terelakkan. Di sisi lain, tentunya saat-saat harus pisah dan menjalankan aktifitas kembali di perantauan dan bertemu dengan kemancetan di beberapa ruas jalan. Sedihkah mereka? Tampaknya tidak. Karena kebahagiaan yang masih menggunung saat bertemu dengan sanak family tidak dengan mudah terhapuskan oleh kemancetan. Pak Dhe Karwo, Gubernur Jatim saat dalam acara Cangkru’an di JTV mengatakan, “akan tranformasi budaya saat-saat setelah lebaran.” Budaya dari desa yang masih mengedepankan sopan santun, unggah-ungguh, hormat kepada orang tua dan mempunyai jiwa sosial yang tinggi yang dapat dibawa sebagai para pelancong di kota.
Jika boleh saya simpulkan, fenomena tradisi mudik menjelang Idul Fitri sudah menjadi kultur atau budaya bangsa Indonesia yang sangat unik dan mungkin hanya satu-satunya di dunia. Fenomena mudik ini telah melibatkan banyak kalangan dan menyita banyak perhatian, mulai dari pemerintah, ekonomi, sosiolog, bahkan pihak aparat kepolisian sekalipun. Tak lupa juga perusahaan-perusahaan yang ramai memanfaatkan moment ini untuk memberikan pelayanan kepada para pelanggannya. Saatnya untuk perusahaan memberikan service secara real kepada customer. Dalam ilmu pemasaraannya disebut dengan CSR (Corporate Social Responsibility). Mereka memberikan pelayanan berupa mudik gratis dan posko peristirahatan di beberapa ruas jalan.
Sekarang, telah kita rasakan bersama indahnya kemenengan di hari nan fitri. Hari dimana semua orang dapat merasakan kebahagiaan lahir maupun batin. Hari dimana kita dapat berkumpul dengan para sanak family. Hari dimana kita bisa saling memaafkan. Semoga kebahagiaan senantiasa bersama kita.
1 komentar:
Wkkakkakkk
Buat gambarnya... heheh
Posting Komentar