Di dalam
pasar uang di mana saham dan obligasi di jual, para pemakai uang, seperti
perusahaan yang melakukan investasi harus bersaing satu sama lain dalam mencari
modal. Untuk memperoleh pembiayaan atas proyek yang akan bermanfaat bagi
pemegang saham perusahaan, perusahaan harus menawarkan kepada investor, tingkat
pengembalian yang mampu bersaing dengan alternatif investasi lain yang tersedia
bagi investor tersebut. Tingkat pengembalian dari alternatif investasi terbaik
berikutnya ini dikenal sebagai biaya kesempatan dana (opportunity cost of
fund).
Dalam
menjalankan sebuah bisnis, perusahaan kecil lebih berisiko dalam tingkat
pengembalian dari pada perusahaan besar. dikarenakan pengalaman bisnis
perusahaan kecil mengandung risiko operasi yang lebih besar , mereka lebih
sensitif terhadap kecenderungan bisnis yang menurun dan beberapa beroperasi
dalam pasar yang kecil dengan cepat muncul dan kemudian dengan cepat berlalu.
Selain itu perusahaan kecil mengandalkan pembiayaan melalui utang dibandingkan
perusahaan yang besar. Perbedaan ini menciptakan variabilitas yang lebih pada
jumlah laba dan arus kas, yang diartikan sebagai risiko yang lebih besar.
Dengan memikirkan forgoing (kehilangan peluang yang lebih baik), kita harus
mengharapkan adanya tingkat pengembalian yang berbeda untuk pemilik dari
berbagai surat-surat berharga tersebut. Jika pasar menghargai investor atas
risiko yang ditanggungnya, maka tingkat pengembalian harus meningkat mengikuti
peningkatan risiko.
Konsep Tingkat Pengembalian
yang Diinginkan
Tingkat
pengembalian yang diinginkan investor dapat diartikan sebagai tingkat
pengembalian minimum yang diperlukan untuk menarik investor agar membeli atau
memegang surat-surat berharga tertentu. Definisi ini mempertimbangkan biaya
kesempatan investor dalam melakukan investasi yang artinya jika suatu investasi
dilakukan maka investor harus melepaskan pengembalian yang diperoleh dari
investasi alternative terbaik berikutnya. Pengembalian yang dilepas tersebut
dinamakan biaya kesempatan dana dan sebagai konsekuensinya merupakan tingkat
pengembalian yang diinginkan investor. Dengan kata lain, kita berinvestasi
dengan harapan untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang memadai bagi
investor. Investasi akan dilakukan hanya jika harga pembelian cukup rendah bila
dibandingkan dengan arus kas masa depan yang diinginkan sehingga dapat
menyediakan tingkat pengembalian yang lebih besar atau sama dengan tingkat
pengembalian yang kita inginkan. Untuk membantu memahami sifat alami tingkat
pengembalian yang diinginkan investor, kita dapat memisahkan tingkat
pengembalian ke dalam komponen dasarnya: tingkat pengembalian bebas risiko
ditambah premi risiko yang dinyatakan dalam persamaan:
K = Krf +Krp
Di mana K = tingkat
pengembalian yang diinginkan investor
Krf = tingkat pengembalian bebas risiko
Krp = premi risiko
Tingkat pengembalian bebas risiko (Krf ) merupakan imbalan atas
keputusan menunda konsumsi dan bukan karena risiko yang kita tanggung artinya
pengembalian bebas risiko mencerminkan kenyataan dasar bahwa kita berinvestasi
hari ini agar kita dapat mengkonsumsi lebih banyak di kemudian hari. Dengan
sendirinya tingkat bebas risiko atau tingkat diskonto harus hanya digunakan
sebagai tingkat pengembalian yang diinginkan, untuk investasi yang tidak
berisiko. Biasanya, ukuran kita untuk tingkat bebas risiko adalah sebesar
tingkat pengembalian atas surat-surat berharga pemerintah AS. Premi risiko (Krp)
merupakan tingkat pengembalian yang kita harapkan untuk dapat diterima karena
risiko yang ditanggung.[5]
Semakin tinggi tingkatan risiko, maka kita akan menuntut tambahan pengembalian
yang diinginkan. Walaupun kita akan atau tidak akan bisa menerima pengembalian
tambahan ini, kita harus mempunyai alasan untuk mengharapkan penambahan
tersebut.
Contoh:
Untuk menunjukkan konsep tingkat pengembalian yang diinginkan itu, mari kita
mengambil contoh perusahaan Polaroid yang obligasinya jatuh tempo pada tahun
2006. Berdasarkan harga pasar dari obligasi ini pada 19 September 2000 kita
dapat menentukan investor itu mengharapkan pengembalian sebesar 11%. Surat
utang jangka pendek pemerintah 90 hari saat itu, bernilai 6% yang berarti bahwa
pemegang obligasi Polaroid menuntut premi risiko sebesar 5%. Dinyatakan dalam
suatu persamaan:
Tingkat pengembalian yang
diharapkan (K)
= tingkat bebas risiko (Krf) + premi risiko (Krp)
=
6%
+ 5%
= 11%
[2] Sri Redjeki Hartono, 1995, Hukum Asuransi
dan Perusahaan Asuransi, Sinar Grafika, Jakarta, hal.62
[5] premi risiko di sini dapat dianggap sebagai
gabungan dari “premi risiko yang gagal” (yang dicerminkan dalam perbedaan
tingkat pengembalian obligasi dan pada tingkat jatuh tempo yang sama dari
obligasi pemerintah) dan “premi struktur jangka waktu” (yang dicerminkan pada
perbedaan antara tingkat obligasi jangka pendek pemerintah dalam 90hari dan
obligasi jangka panjang pemerintah).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar