Nasionalisme Rakyat Indonesia Lewat Sepak Bola
Oleh: Fuad Fathoni*
Pertandingan Tim Nasional Indonesia melawan Oman tampaknya menjadi ajang introspeksi yang mendalam bagi PSSI. Bagaimana tidak, itu adalah pertandingan penting yang menjadi penentuan bagi tim nasional kita maju ke putaran final Piala Asia 2011 yang akan berlangsung di Qatar. Tetapi akhirnya kita masih harus mengakui keunggulan Oman dan dipaksa kalah 1-2. Bukan sekedar kekalahan 1-2 yang banyak disoroti oleh para pendukung Tim Garuda, melainkan ada hal yang menarik di akhir pertandingan tersebut. Yakni dengan masuknya suporter ke lapangan dan mencoba untuk mencetak gol.
Menjelang berakhirnya pertandingan kemarin (6/1), wasit asal Malaysia Muhammad Saleh Subkhidin memberikan waktu perpanjangan selama 4 menit. Kedudukan Indonesia ketika itu sudah tertinggal 1-2. Tiba-tiba ada salah seorang supporter yang masuk ke lapangan dari palang pintu merah berlari dan mencoba untuk menggiring bola ke arah gawang Oman yang dijaga kiper Ali Al Habsi dan mencoba untuk mencetak gol tetapi masih bisa digagalkan oleh kiper asal klub Premier League Bolton Waderers itu.
Dia berlari ke tengah lapangan yang masih dipenuhi para pemain kedua tim karena pertandingan masih menyisakan waktu dua menit terakhir. Tidak ada satu pun petugas yang sadar akan tindakan nekat pria yang yang mengenakan baju merah (kostum timnas) dan syal itu hingga dia terlihat sudah berlari di tengah lapangan.
Boaz Solossa yang mencoba untuk menghentikan kehadiran pria itu juga tidak berhasil mencegahnya. Suporter nekat itu berhasil merebut bola, menggiringnya ke arah gawang Oman yang dijaga kiper Ali Al Habsi. Polisi yang ada di belakang Al Habsi pun langsung mengamankan pria tersebut dan membawanya ke pos keamanan.
Belakangan diketahui pria nekat itu bernama Hendri Mulyadi. Dia mengaku kecewa dengan permainan timnas kita yang selalu kalah dan tidak ada perombakan pemain. “Saya kecewa tim nasional kalah terus. Kenapa pemainnya tidak pernah diganti, cuma itu-itu saja,” ujar Hendri yang datang dari Cikarang, Bekasi.
Dia menggiring bola dari tengah lapangan dan bisa berhadapan langsung dengan kiper Ali Al Habsi mencoba untuk mencetak gol. Tapi beruntung Al Habsi masih bisa menyelamatkan gawangnya. “Jika saya bisa mencetak gol, saya akan mencium lambang garuda yang ada di dada kiri saya.” Ujarnya saat diundang salah satu stasiun televisi swasta.
Dengan kekalahan ini, Indonesia makin terperosok di peringkat bawah klasemen grup B dengan perolehan nilai tiga dari lima kali pertandingan. Sedangkan Oman mampu menambah perolehan nilai menjadi tujuh, mendekati Australia dan Kuwait. Indonesia masih menyisakan satu pertandingan lagi melawan Australia pada 3 Maret. Namun hasil itu tidak akan berarti apapun, tetap tidak akan merubah posisi Indonesia yang sudah tersingkir. Hasil ini juga membuat Indonesia gagal melanjutkan tradisi selalu lolos ke putaran final Piala Asia sejak keberhasilan pada 1996.
Banyak dukungan yang diberikan kepada Andri setelah kejadian itu. Salah satunya dari jejaring sosial (Facebook). Ada sekitar 800 lebih dari para facebookers yang mendukung Andri menjadi ketua PSSI mengantikan Nurdin Halid. Banyak dari kalangan pengamat sepak bola yang memaklumi sikap yang dilakukan oleh Andri. Mereka menilai bahwa itu merupakan perwakilan dari jutaan pendukung Tim Nasional yang memimpikan tim-nya dapat bermain dengan baik, memenangkan pertandingan dan tentunya dapat berkiprah di ajang yang lebih bergensi.
PSSI harus melakukan perubahan (change). Baik dari struktur organisasinya maupun dari manajerialnya. Banyak cara yang dapat dilakukan. Salah satunya dengan mengumpulkan para supporter di tiap-tiap kota ataupun kabupaten yang telah mengikuti kompetisi di ISL. Mereka (para supporter) yang selama ini mempunyai komitmen kuat terhadap klub. Begitu juga pastinya kepada negaranya. Mereka banyak yang mencaci timnas karena melihat kinerja dari PSSI itu sendiri. Tetapi tetap di hati kecil mereka ada semangat nasionalisme yang begitu besar. Terbukti dengan banyaknya supporter yang hadir di lapangan atau yang hanya menyaksikan di layar kaca.
Para suporter yang sebenarnya menjadi nyawa dari tim itu sendiri seringkali di kesampingkan perannya. PSSI tak mau membuka diri untuk hanya sekedar berdiskusi dan meminta pendapat tentang bagaimana baiknya timnas ke depan. Seolah-olah dia (PSSI) sudah mengetahui jalan dan merasa benar terhadap apa yang dilakukan terhadap timnas. Padahal harus ada banyak masukan agar semua aspirasi dapat tertampung. Semua itu hanya mempunyai satu tujuan, yaitu memajukan persepakbolaan tanah air.
Lantas apalagi yang perlu dilakukan oleh PSSI untuk meningkatkan prestasi timnas kita. Sudah seperti ini nasib persepakbolaan negara kita. Kami berharap PSSI jujur terhadap apa yang terjadi di dalam tubuh mereka sendiri. Bila mereka jujur dan berani terbuka, sepak bola Tanah Air sudah pasti tak seperti ini kondisinya. Sudah saatnya PSSI membuka mata dan hati untuk memperbaiki persepakbolaan Tanah Air. Kalau masih seperti ini terus, lupakan impian untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
Setidaknya ini yang masih bisa kita harapkan dan menjadi hiburan di tengah hiruk pikuknya hukum di negara Indonesia. Agar prestasi yang pernah kita dapat di tahun 1971 menang 9-1 atas Vietnam Selatan di ajang President’s Cup bukan hanya jadi sejarah. Dari cabang ini benar-benar bisa dilihat nasionalisme rakyat yang menamakan dirinya suporter. Tanpa pamrih dan tanpa disuruh mereka datang ke stadion. Inilah yang menjadi bukti bahwa nasionalisme di negara kita masih hidup.[]
*) penulis adalah mahasiswa UIN MALIKI Malang Jurusan Manajemen dan menjabat sebagai Wakil Ketua Rayon Ekonomi Moch. Hatta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar