Senin, 08 Maret 2010

Ada apa dengan Politik?

(terinspirasi dari sebuah tangisanmu)

Apa yang salah dengan politik, kayaknya tidak pernah ada baiknya. Semua orang menjadi jenuh untuk memikirkan masalah politik. Politik rasa-rasanya sudah menjadi strategi hitam untuk mencapai kekuasaan. Dalam politik tidak ada kawan atau sahabat, yang ada hanyalah kepentingan. Itu yang terus aku dengar dari orang-orang. Jika kita membuat kesepakatan dan mencapai kata deal. Harus ada kontrak di dalamnya. Entah itu di bawah tangan ataupun hitam di atas putih. Tapi sejalan dengan yang terjadi di lapangan, hampir tidak ada lagi kesepakan di bawah tangan. Karena yang terjadi hanyalah Penghianatan.


Sangat miris ketika ada orang yang bilang bahwa, baru bisa dikatakan politik jika kita bisa menghianati sahabat sendiri. Apa itu yang ada di benak mereka selama ini.
Kenapa harus politik yang harus disalahkan? Bukankah politik hanya sebuah alat yang digunakan untuk mencapai tujuan. Bukan politiknya yang salah, tapi orang-orang yang terlibat dalam di dalamnya yang menjadikan politik itu busuk. Sangat menarik apa yang pernah ditulis Arvan Pradiansyah salan satu dosen UI, yang mengatakan bahwa jika kamu mau bahagia, jangan menjadi politikus. Karena bagaimana pun yang terjadi, yang ada di pentas politik hanyalah kepentingan. Kepentingan untuk dirinya menjadi pahlawan, kepentingan untuk golongan tertentu maju dan mendapat suara di pemilu selanjutnya, atau yang lebih parah ada sejumlah dana yang dijanjikan agar tetap berada di pihaknya.

Masih ada yang memihak dan berargumen bahwa kebenaran politik berbeda dengan kebenaran hukum. Jika kebenaran hokum, berlandaskan pada Undang-Undang yang telah dibuat. Tetapi kebenaran politik berlandaskan pada kepentingan pada masing-masing golongan.

Kepada semua sahabat-sahabatku….

Jadikan politik yang kita jalani adalah politik yang bersih. Politik yang tetap menjunjung tinggi asas kebersamaan. Mereka semua juga masih sahabat kita. Kalau kita bertindak seperti itu kepada sahabat sendiri, lantas apa yang akan kita perbuat pada musuh kita. Apakah kita mengijinkan kawan kita yang lain tersenyum melihat kita masih saling memusuhi dan saling mematikan di kalangan internal sendiri. Sungguh tidak etis sahabat.

Mari kita bentuk politik yang berakhir dengan win-win solution. Keputusan yang bermuara pada kemenangan kedua belah pihak. Keputusan yang tidak saling menjatuhkan dan mendhalimi. Keputusan itu yang harus kita buat. Jika kita masih bingung apa yang harus kita? Lakukan saja apa yang sekiranya akan membuat Tuhan tersenyum. Begitulah kiranya pakar motivator Mario Teguh berujar.
Apa kita bisa? Itulah tugas kita.[]


Malang,
040310
08:30 AM

Tidak ada komentar: