Berawal dari berita yang saya dengar dari fakultas di kampus, ada kompetisi wirausaha. Awalnya saya tidak begitu tertarik, karena ada hal serupa yang diselenggarakan kampus. Tetapi ada sebagian teman yang mengatakan bahwa itu merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi. Akhirnya saya daftar dengan mengisi formulir yang telah diberikan pada email saya. Banyak juga teman-teman saya yang juga mengisi. Tetapi sampai pengisian tahap kedua, saya merasa semua juga dikirim. Ternyata tidak, hanya sebagian dari teman-teman saya yang dikirimi email untuk tahap seleksi kedua. Saya juga tidak pernah kroscek kepada mereka. Setelah beberapa waktu, sempat saya iseng tanya-tanya tentang yang email kedua yang harus diisi. Ternyata teman saya tidak mendapatkan email itu.
Sedikit bingung. Sebenarnya ini bagaimana? Saya pun menghiraukan hal itu. Entah bagaimana nanti hasilnya, saya mencoba mengikuti prosesnya. Sampai pada proses tahap ketiga dan ditelpon dari pihak Bank Mandiri saya baru merasa yakin bahwa itu benar. Berarti ada proses seleksi. Saya mencoba konfirmasi kepada pihak fakultas, ternyata mereka tidak mengetahui. Malah ada salah seorang dosen yang melarang karena ditakutkan ada unsur penipuan. Ada teman saya cewek yang hampir dilarang berangkat karena harus tidur di hotel. Maklum, kekhawatiran dosen sebagai orang tua kita di kampus.
Akhirnya saya menemukan teman yang senasib. Dia juga tidak pernah mengira bahwa dia akan terpanggil. Akhirnya kita sempat bertanya-tanya apa kriteria yang dilihat dari proses seleksi ini? Saya melihat banyak usaha yang sudah pada tingkat CV. Sedangkan saya? Rasa minder dan was-was selalu menyelimuti saya. Apakah benar saya akan berangkat? Karena saya mempunyai teman yang senasib dengan saya, akhirnya kita berangkat. Dalam perjalanan saya masih merasa bimbang apa yang akan saya utarakan di sana. Kami berbincang seputar akan seperti apa nanti di sana meski sudah ada jadwal yang terlampir.
Saya merasa ragu karena bisnis yang saya jalani ini masih beak down dari orang tua saya. Karena orang tua saya merupakan penjual mie ayam, maka saya berniat untuk melakukan bisnis serupa. Dengan alasan bisa menimba ilmu tidak dari orang lain, melainkan dari orang tua sendiri. Saya juga berniat membesarkan warung desa yang telah dirintis orang tua saya. Hasil dari berjualan mie ayam itulah yang bisa mengantarkan saya kuliah di Malang. Tidak hanya itu, hasil yang tidak seberapa itu juga telah meluluskan kakak saya menjadi sarjana teknik.
Mie ayam yang telah dijual dengan sangat sederhana tersebut membuat saya merasa berhutang untuk membesarkannya. Konsep yang telah saya dapatkan dari bangku kuliah saya aplikasikan di dunia nyata. Mie ayam yang sederhana yang belum layak untuk dijual dengan rasa yang kurang bisa bersaing. Karena warung yang berada di desa tidak begitu mengandalkan rasa. Mereka hanya mengandalkan kuantitas dan keramahan penjualnya. Sehingga pembeli yang datang tidak hanya ingin makan, tetapi mereka ingin ngobrol dan cari teman. Oleh karena itu orang tua saya merupakan orang yang asyik dan nyambung jika diajak ngobrol, apalagi ibu saya. Saya melihat faktor ini yang paling dominan dalam lakunya usaha bisnis orang tua saya.
Berkibalat dari itu, saya ingin mencoba membangun warung itu dengan konsep yang lebih modern. Selain musik yang disematkan dalam konsep warung tersebut, saya juga ingin memasang wifi dan gazebo yang menyebabkan orang yang datang betah dan merasa enjoy.
Kembali lagi saya cerita tentang perjalanan. Sesampainya saya dan teman saya ke Hotel Tunjungan, setelah beberapa kali tanya. Kami tidak pernah membayangkan akan seperti ini hotelnya. Begitu mewah. Kami harus check in di receptionist. Kami mendapatkan kunci kamar dengan menggunakan kartu. Setelah kami masuk, semakin kagum dengan fasilitas yang ada. Hal tersebut semakin membuat saya ciut nyali. Bagaimana orang-orang yang ada di sini nanti. Setelah berkenalan dengan teman mahasiswa kampus lain, ternyata dia juga merasakan hal yang sama. Akhirnya kita berkenalan dan berbincang-bincang seputar masalah bisnis tentunya.
Acara pun telah dimulai, satu per satu dari kita maju untuk presentasi di hadapan juri. Hari itu benar-benar menjadi hari yang sangat luar biasa bagi saya. Saya presentasi di hadapan para pakar dan berkompetisi dengan para wirausaha muda seluruh Jawa Timur. Perasaan senang dan bangga yang saya rasakan ketika itu. Meskipun saya tidak menang, tetapi saya sangat berterimakasih kepada Bank Mandiri yang telah mempertemukan saya dengan para wirausahawan muda yang mempunyai semangat berbisnis. Sesampainya di kampus ada salah satu teman yang bercerita ke dosen. Saya tidak mengetahui hal itu, teman saya bercerita kami dijadikan contoh kepada mahasiswa yang lain dengan berbagai kisahnya. Sampai sertifikat yang kami peroleh dari acara tersebut diminta fotokopiannya oleh fakultas.
Saya mulai lagi mencoba bisnis baru lagi dengan usul dari beberapa teman. Saya mencoba membuat jajanan tradisional dengan konsep yang lebih modern. Misalnya saya membuat onde-onde yang bukan berisi kacang hijau lagi. Saya mencoba membuat onde-onde dengan rasa coklat, rasa strawberry, rasa keju, rasa coklat kacang dsb. Saya juga mencoba membuat dadar gulung dengan rasa pisang coklat dengan ditaburi keju di atasnya. Selain itu, saya juga membuat lemper dengan isi sosis yang sekaligus dikasih caos pedas di dalamnya. Hal tersebut memenuhi para penggemar pedas tanpa bingung cari lombok lagi. Sekarang bisnis ini masih dalam tahap pengembangan.
Sampai akhirnya saya dihubungi oleh teman saya ketika di Surabaya kemarin bahwa ada undangan lagi dari Bank Mandiri. Semua diundang melalui email. Ketika saya membaca ada Rumah Perubahan. Saya mencoba crosscheck ke kakak saya. Ternyata benar. Rumah Perubahan adalah milik Rhenald Kasali yang beliau didirikan. Kakak saya merasa undangan itu sangat penting sehingga dia menyarankan saya untuk mengikutinya. Pasti akan ada banyak ilmu yang saya dapatkan, sarannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar