Selasa, 15 Maret 2011

Profil Bisnis dan Pengalaman Hidup (curhat)


Insting melakukan bisnis memang belum terbentuk ketika saya masih duduk di bangku MI (Madrasah Ibtidaiyah). Tetapi kedua orang tua saya yang bekerja bukan sebagai pegawai negeri membuat beliau selalu berjuang untuk membiayai kami. Apapun beliau lakukan. Karena tidak ada jaminan di awal bulan nanti mendapat gaji layaknya PNS. Saya dibesarkan di salah satu desa di Kabupaten Madiun dengan 4 bersaudara.
Semasa sekolah dasar saya termasuk orang yang akademis. Banyak cerdas cermat yang selalu saya ikuti dalam lomba-lomba antar sekolah. Prestasi akademik saya juga termasuk dalam kategori baik. Selama 6 tahun saya sekolah MI, saya selalu mendapat peringkat 5 besar. Tapi anehnya, saya tidak pernah sekalipun juara pertama.
Melanjutkan ke sekolah favorit di tingkat SMP, saya terus berada di kalangan akademik. Mulai dari kelas unggulan sampai guru-guru unggulan yang mengajarnya. Gejolak kawula muda yang menuntut saya untuk bertingkah nyleneh pada waktu itu. Salah pergaulan jika lebih tepat dikatakan. Hal tersebut berakibat pada prestasi saya. Sampai akhirnya kedua orang tua saya yang harus turun tangan.
Sampai saya masuk sma, perasaan bisnis belum terbersit sama sekali di benak pikiran saya. Saya tetap berada di zona nyaman. Karena masih terpenuhi, walau seadanya. Saya harus berangkat sekolah dengan bersepeda, padahal waktu itu teman-teman sudah mengendarai sepeda motor. Rasa minder muncul dari dalam diri saya. Jangankan untuk memacari cewek, bergaul dengannya pun ada rasa was-was. Saya termasuk orang yang kuper (kurang pergaulan) pada waktu itu, walaupun demikian saya masih dipercaya menjadi ketua kelas, Pengurus OSIS, Pengurus MPK dan beberapa kegiatan sekolah.
Hal menarik yang saya alami selama bersekolah mulai MI sampai SMA adalah saya tidak pernah membayar SPP. Selalu saja mendapatkan beasiswa, baik beasiswa tidak mampu ataupun beasiswa berprestasi. Bahkan ketika saya lulus malah mendapat cashback.
Lulus sekolah dengan prestasi yang cukup membanggakan. Idealis dari para lulusan sekolah favorit selalu inginnya mencari universitas ternama. Selama saya lulus, sudah mendaftar di bebarapa perguruan. Sebanyak 9 tes masuk perguruan tinggi, ikatan dinas dan tes kerja sudah saya lakukan. Tetapi hasilnya nihil. Tak ada satupun yang nyangkut. Tahun itu benar-benar tidak memihakku. Tetapi tampaknya jalanku memang demikian. Untuk mengisi kekosongan saya gunakan untuk kursus Bahasa Inggris di Pare Kediri yang katanya kampung Inggris. Salama 7 bulan saya berada di saya.
Naluri ingin mencari penghasilan sendiri mulai keluar. Karena saya juga baru pertama kali hidup di kota orang yang setiap bulannya selalu menerima kiriman. Padahal di saat yang sama kakakku harus menyelesaikan kuliahnya. Dari mana kedua orang tuaku mendapatkan uang sebanyak itu? Pendapatan yang tak pasti, membuat beliau harus terus berpikir. Akhirnya ku berniat untuk mengajar guna membantu kedua orang tuaku. Minimal saya dapat makan sendiri tanpa kiriman.
Setelah lulus saya akhirnya diterima di UIN Malang di Fakultas Ekonomi. Jika melihat background, saya sama sekali tidak ada latar belakang IPS atau ilmu-ilmu sosial. Banyak teman-teman yang bilang bahwa saya salah jurusan. Apakah nanti saya mampu? Sempat terbersit pikiran tersebut. Saya konsultasikan dengan guru les saya ketika sma. Beliau beranggapan bahwa anak IPA pasti juga bisa menerima ilmu sosial. Akhirnya saya jalani mata kuliah dengan belajar keras. Alhamdulillah Indeks Prestasi saya semester pertama cumlaude. Hal tersebut yang menjadi penyemangat saya bahwa saya juga bisa berkompetisi.
Jiwa bisnis saya benar-banar terasah selama tinggal di asrama. Karena selama setahun mahasiswa diwajibkan berada di asrama. Saya bersama teman-teman yang lain tinggal di asrama. Satu kamar terisi oleh 6 sampai 8 orang. Saya bertempat di lantai 3 yang lokasinya sangat jauh dari kantin. Melihat kebiasaan teman kamar sebagai perokok, saya mencoba menanyakan pada mereka bagaimana jika saya jualan? Tanpa pikir panjang teman saya langsung menyetujui, bahkan sangat mendukung. Akhirnya saya pun berjualan. Bermula dari modal Rp. 100.000, saya memberanikan diri untuk belanja di pasar besar. Berawal dari teman kamar, akhirnya menyebar ke tetangga kamar sampai satu lantai mengenal saya sebagai penjual rokok. Banyak kendala yang saya hadapi mulai dari utang teman-teman yang belum terbayar, sampai harus rela dibangunkan di tengah malam hanya demi sebatang rokok.
Semester ketiga saya sudah berada di kos. Saya ingin membuka bisnis les-lesan yang menjadi impian saya selama kuliah. Jika banyak teman-teman yang mendaftar sebagai tentor, saya ingin mendirikan les-lesannya. Impian itu terwujud sampai saya membuat brosur yang sudah saya sebarkan di beberapa sekolah. Saya membuat dua rim brosur dengan desain sendiri ala kadarnya. Karena pengetahuan bisnis saya belum begitu luas, sementara semangat saya yang naik turun, akhirnya mandek di tengah jalan. Saya kurang mengandalkan kerja tim.
Setelah itu saya membentuk organisasi yang berniat untuk memupuk jiwa entrepreneur di kalangan mahasiswa, utamanya Fakultas Ekonomi. Kami selalu berjualan ketika ada acara wisuda di kampus. Kami menjual es dengan ditemani berbagai makanan khas Malang. Laba yang kita hasilkan juga cukup memuaskan.
Menjelang akhir semester tim kami mempunyai kesibukan masing-masing sehingga membuat kami berjalan sendiri-sendiri. Ada beberapa teman yang memilih untuk kerja, ada juga yang tetap ingin punya usaha sendiri. Pada tingkat 4, saya merintis mie ayam mantap ini dengan anggapan dapat meneruskan usaha yang telah digeluti oleh kedua orang tua saya. Bisnis ini yang saya daftarkan untuk mengikuti program Wirausaha Muda Mandiri. Akhirnya saya terpanggil bisa presentasi di Kota Surabaya.
Seiring berjalannya waktu saya sekarang memulai bisnis usaha yang baru dalam masa perintisan. Yaitu jajanan pasar yang kami buat dengan ukuran yang lebih kecil dari biasanya (imut). Banyak inovasi yang saya lakukan dalam pembuatan jajan pasar tersebut. Mulai dari onde-onde dengan rasa coklat, strawbery, keju, coklat kacang dsb. Saya juga membuat lemper dengan isi sosis yang di dalamnya telah diisi dengan saos sambal sekalian. Jadi tidak membutuhkan lombok lagi. Ada juga dadar gulung yang saya buat dengan berbagai rasa tak seperti biasanya.

Tidak ada komentar: