Senin, 10 Januari 2011

Apa substitusinya???

Kemarin saya menbaca koran Jawa Pos (6/01). Di sana terdapat berita yang menginformasikan tentang harga cabe yang mencapai angka Rp 100.000. Juga di berbagai tempat yang mencapai kisaran harga 70-80. Salah seorang pedagang diwawancarai, dia mengatakan bahwa harga cabe berubah, kalau naik tidak mungkin sampai semahal ini. Langsung kemarin saya langsung sms teman saya yang ada di Madiun yang kebetulan penjual cabe,” berapa harga di sana?” Dia menjawab dengan singkat, “70, nyapo?” dengan bahasa sms yang sederhana. Lantas saya menanyakan kepadanya, apakah memang stok yang tidak ada atau ada yang memainkan harga? Singkat juga jawabnya, “barangnya gag ada, marai gunung mbledos”. Lantas saya mengikuti berita yang ada di televisi, ada tag line di stasiun swata yang menginformasikan bahwa pemerintah menggalakkan tanam cabe.
Akhir-akhir ini penjual gorengan juga tidak menyediakan Lombok/ cabe sebgai lalapannya. Banyak orang memaklumi. Bagaimana mungkin harga gorengan yang hanya 500 rupiah menyediakan lombok dengan harga 70 ribu.

Apakah selama ini belum ada yang memikirkan substitusi dari si merah pedas ini. Kenapa ahli biologi atau pertanian tidak membuat varian baru pengganti cabe. Agar kita pencinta pedas tetap bisa makan pedas. Sehingga tidak terjadi harga cabe yang membumbung tinggi. Mungkin nggak ya???


Fuad Fathoni, Mahasiswa UIN MALIKI Malang asal Madiun

070110
08:01 AM

Tidak ada komentar: