Kamis, 03 Februari 2011

Nasionalisme Ber-film

Tepat di hari ini adalah tahun baru orang China yang juga dianggap hari besar dalam tanggalan Republik Indonesia. Hal ini tidak luput dari jasa mantan presiden kita yang ke-4, yaitu alm. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Beliau memperjuangkan nasib bangsa Cina yang masih minoritas namun diakui keberadaannya . Beliau menghapus peraturan yang melarang bangsa Cina merayakan tahun baru di muka umum. Gus Dur merupakan guru bangsa dan juga tokoh pluralism yang diakui oleh bangsa ini. Sehingga, pagi tadi menjadi topic dalam Editorial Media Indonesia dengan tajuk “Pluralisme Berbangasa”.


Kali ini saya tidak akan membahas masalah pluralisme yang ada di negara kita ini. Tetapi akan sedikit mengikuti bagaimana bangsa ini? Banyak ketimpangan yang terjadi di negeri ini. Dalam dua film garapan bang Deddy Mizwar yang baru saja saya tonton (Alangkah Lucunya negeri ini dan film kawakan Nagabonar 2) cukup membuat saya salut. Pertama, saya sangat salut kepada Bang Deddy yang bisa membuat film yang kritis dan sangat mudah dipahami oleh kalayak umum. Film-filmnya cukup membuka pikiran saya akan banyak terjadinya ketimpangan.

Dalam film Alangkah Lucunya, bagaimana nasib para pencopet yang ingin dientaskan oleh sarjana manajemen. Bagaimana usaha meyakinkan para pencopet untuk tidak terus mencopet. Para pencopet yang diajari dengan Pancasila, Undang-Undang bahkan sampai Rukun Islam. Sesuatu hal kecil yang mungkin tidak dipahami oleh pejabat di atas sana. Sampai akhirnya beberapa dari mereka sadar dan mau berjualan asongan. Tetapi lucunya, yang pencopet dikejar-kejar oleh masa (sadah biasa, karena mereka salah) dan pedagang asongan yang ingin mencari rejeki yang halal masih juga dikejar-kejar, bukan oleh masa melainkan oleh satpol PP (apakah juga wajar???)

Dalam film yang kedua yang juga saya tonton, Nagabonar 2. Kisah seorang anak yang sudah menjadi pengusaha sukses lulusan dari luar negeri yang ingin membangun resort di pekarangan makam ibu, nenek dan pamannya. Untuk mendapatkan ijin, Bonaga mengajak ayahnya pergi ke Jakarta. Ayahnya yang mengaku jendral tersebut masih mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi terhadap Negara. Sampai di Jakarta dengan berbagai cerita, sang ayah (yang diperankan sendiri oleh Deddy Mizwar) mengajak jalan-jalan ke patung proklamator Bung Karno dan Bung Hatta. Beliau hormat dengan mengangkat tangan penuh hikmat seolah masih ikut merasakan detik-detik proklamasi tersebut. Beliau juga ingin diantarkan ke makam Jendral Sudirman. Hah? Bukankan makamnya ada di Jogja. Lantas seorang sopir bajaj mengantarnya ke sebuah jalan yang terdapat patung Jendral Sudirman dalam posisi hormat. Tak lupa beliau juga ikut hormat di depannya. Sampai akhirnya naik ke patung Jendral Sudirman yang tetap dalam posisi hormat. “Turunkan tanganmu Jendral!!! Apa yang kau hormati??? Apakah karena mereka beroda empat??? Turunkan tanganmu Jendral…” beliau seolah tidak rela jika Jendral Sudirman tatep hormat sedangkan yang dihormati tidak terhormat. Sebuah nasionalisme yang sangat kuat.

Begitulah kiranya sedikit cerita film garapan Bang Deddy, satu yang perlu dicermati sekali lagi adalah dalam kedua film tersebut sama-sama menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Sangat menjadi pencerahan ketika banyak film nasonal yang tidak nasionalis. Mereka hanya menjual film horror, komedi dan percintaan remaja. Semoga akan ada Bang Deddy-Bang Deddy yang lain yang membuat karya film ber-genre nasionalisme. Hidup per-film-an Nasional.

Kertosariro 11 Malang
3 Peb 2011
16 : 27 PM

Tidak ada komentar: