Tepat pada pukul 03:13 waktu Indonesia bagian barat, ketika aku melihat sepak bola yang sangat menentukan antara Chealse dengan Internazionale Milan. Aku mendapat pesan singkat dari kakakku yang ada di Madiun. Dia mengabarkan bahwa desa Tempursari lagi heboh. Banjir yang biasa kami rasakan kembali datang, bahkan kali ini sampai masuk rumah.
Aku sudah bisa membayangkan betapa besarnya banjir itu. Karena aku sudah tahu, jika ada banjir dan sampai masuk rumah, berarti banjir itu sudah tergolong banjir besar. Karena pondasi rumahku sudah termasuk tinggi dibandingkan tetangga yang lain. Kalau banjirnya gag besar, biasanya cuma sampai ke teras depan rumah.
Mendengar berita itu, aku sama sekali tidak kaget. Karena musibah banjir itu sudah aku rasakan sejak aku masih duduk di taman kanak-kanak. Ingatan itu masih terasa sangat kuat karena dulu aku pernah mendapat musibah tenggelam ketika ada banjir itu. Ketika banjir aku dengan senangnya mainan air dan mengambil barang-barang yang terhanyut mengikuti aliran air banjir. Ketika itu ada sebuah sisir yang mengambang lewat di hadapanku dan aku ingin mengambilnya. Dengan berbagai usahaku, ternyata aku tidak bisa. Malah aku yang terjatuh ke dalam aliran air banjir itu. Aku tenggelam. Kata bapakku yang datang menyelamatkanku, aku tenggelam sampai tinggal rambut yang bisa dilihat. Artinya memang seluruh tubuhku tenggelam. Haha. . . . ada – ada saja Fuad kecil dulu.
Sekarang aku bercerita kepada sahabat-sahabatku yang ada di Malang.
Jika ada berita Madiun banjir, itu adalah daerahku. Bahkan stasiun televisi berita Metro tv pernah memberitakan ada banjir di madiun dan menyebutkan desanya sekalian, Desa Tempursari.
Pernah ketika aku kangen rumah dengan segala suasana yang ada, dan banjir salah satunya.ketika aku wudhu, aku berjalan di tempat wudhu di Masjid Tarbiyah UIN Malang yang kebetulan ada semacam kolam yang besar yang tingginya kira-kira 30cm. Langsung yang ku ingat adalah seperti banjir yang ada di rumahku. Hehe. . .
Aku sama sekali tidak malu karena rumahku sering banjir dan sebagainya. Justru itu yang akan menjadi semangat bagiku. Bagaimana aku bisa membuktikkan bahwa anak dari udik pun bisa bersaing dengan orang-orang kota yang serba ada. Ini yang bisa menjadi cerita ketika aku sudah berhasil nantinya. Amin. . .
Kertosariro 11
170310
06:34 AM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar